Virtual Tourism Sebagai Solusi Wisata Ramah Lingkungan

Virtual Tourism Sebagai Solusi Wisata Ramah Lingkungan

Virtual Tourism || Pandemi Covid-19 pertama di Indonesia diumumkan langsung oleh Presiden Joko Widodo pada Maret 2020. Saat itu, Presiden Jokowi mengungkapkan terdapat dua orang Warga Negara Indonesia (WNI) yang terkonfirmasi positif Covid-19. Hingga saat ini, pandemi Covid-19 di Indonesia belum kunjung mereda. Justru, angka positif Covid-19 di Indonesia semakin meningkat setiap harinya.

Pandemi Covid-19 memberikan dampak yang signifikan terhadap berbagai sektor, salah satunya adalah pariwisata dan lingkungan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) terdapat penurunan jumlah wisatawan sebesar 88,08% pada tahun 2020. Jumlah wisatawan lokal mengalami penurunan sebesar 61% pada tahun 2020 yang memberikan pengaruh pada kondisi perekonomian Indonesia. Hal ini dikarenakan, pariwisata berperan penting dalam meningkatkan pendapatan hingga memperluas lapangan pekerjaan. 

BACA JUGA : TRADISI TORAJA: PASSILIRAN, BUAIAN TERAKHIR JENAZAH PARA BAYI TANA TORAJA

Pemerintah menggunakan istilah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada April 2020, untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 di Indonesia. Penerapan PSBB mengatur agar sekolah, tempat ibadah, kantor, tempat perbelanjaan, hingga tempat hiburan dan wisata ditutup sementara. Seiring berjalannya waktu, tagar Di Rumah Aja menjadi sangat membosankan di tengah meningkatnya pandemi Covid-19. Hal ini mendorong Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) serta aktor lainnya yang berkecimpung dalam dunia pariwisata untuk membentuk gagasan virtual tourism, agar tetap mendorong rasa ingin berpergian para wisatawan. 

Virtual Tourism : Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf)

Pembatasan sosial dan larangan bepergian lintas wilayah membuat masyarakat beralih ke virtual tourism. Hal ini semakin banyak diadopsi oleh masyarakat umum dan pengelola destinasi wisata, hingga aktor swasta yang menjadikan hal tersebut sebagai peluang. Inovasi ini menjadi salah satu alternatif di tengah meningkatnya pandemi Covid-19 dan menjadi salah satu bentuk transformasi dengan memanfaatkan teknologi. 

Virtual tourism memungkinkan masyarakat untuk melakukan perjalanan dan petualangan melalui sarana teknologi (laptop hingga handphone). Masyarakat yang dalam kategori menengah atau menengah ke bawah, di saat pandemi Covid-19 dapat melakukan perjalanan wisata dan melihat menara Pisa dari sofa rumahnya dengan harga yang terjangkau. Virtual tourism bertujuan untuk membuat wisatawan agar tetap tertarik untuk melakukan wisata di tengah pandemi. 

BACA JUGA : KEUNIKAN-KEUNIKAN DESA ADAT PENGLIPURAN, BALI, INDONESIA

Bentuk konten dari virtual tourism disajikan dalam berbagai ragam, mulai dari pemandangan alam, museum, pentas seni dan budaya adat hingga suasana kehidupan metropolitan. Untuk kegiatan virtual tourism, masyarakat dapat mengakses dan mengunjungi website Wonderful Indonesia yang berada di bawah naungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) :

https://indonesiavirtualtour.com/ 

Virtual Tourism : Solusi untuk Selamatkan Lingkungan Indonesia

Virtual Tourism menjadi solusi untuk melakukan wisata yang ramah lingkungan. Dengan melakukan Virtual Tourism memberikan dampak positif bagi lingkungan, seperti kualitas udara yang membaik. Serta berkurangnya emisi Karbon Dioksida ketika tidak menggunakan kendaraan untuk melakukan wisata.

Perubahan kondisi lingkungan yang lebih baik di masa pandemi juga disebabkan oleh pembatasan perjalanan untuk melakukan pariwisata, baik melalui darat maupun laut. Berkurangnya mobilitas dan aktivitas manusia dapat memberikan dampak terhadap peningkatan kualitas udara, air bersih, polusi suara, hingga penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK).

Virtual tourism menjadi salah satu tren wisata baru dalam era digitalisasi. Tren wisata kedepan memiliki strategi 3C, yaitu Community, Commodity, Conservation. Community merupakan persiapan masyarakat dalam menghadapi kebiasaan baru, khususnya dalam melakukan perjalanan wisata. Sedangkan, Commodity merupakan cara bagaimana agar tidak memiliki ketergantungan pada Taman Nasional (TN) dan Taman Wisata Alam (TWA), namun harus memiliki alternatif objek daya tarik wisata alam di sekitar Taman Nasional dan Taman Wisata Alam. Serta, Conservation merupakan pembatasan masa tourism dalam keadaan pandemi Covid-19 saat ini.

BACA JUGA : RUWATAN RAMBUT GIMBAL: TRADISI MISTIS DARI WONOSOBO

Ketua Dewan Pertimbangan dan Pengendalian Perubahan Iklim (KLHK), Sarwono menyatakan bahwa :

“Melalui virtual tourism masyarakat dapat menyaksikan keindahan alam, keanekaragaman hayati, dan dapat membangkitkan afinitas yang terasa dekat dengan alam, yang merupakan suatu sikap penting dalam menumbuhkan pembangunan berkelanjutan. Virtual tourism akan menjadi marketing tool serta pemicu peningkatan wisata di masa new normal”.

Virtual tourism juga akan mendorong masyarakat untuk melakukan kunjungan tempat tertentu setelah masyarakat melakukan penjelajahan melalui pengalaman virtual. Menurut data Nature Climate Change (2018), yang diambil dari Sustainable Tourism International bahwa pariwisata bertanggung jawab sebesar 8% dari emisi karbon yang ada di dunia.

Sehingga, Virtual tourism merupakan alternatif untuk menyampaikan pesan konservasi secara efektif dan efisien, serta promosi dan edukasi terhadap interpretasi alam, budaya, dan kelanjutan destinasi ekowisata. Pariwisata bukan hanya menjadi korban dari akibat adanya pemanasan global, namun pariwisata juga dapat berkontribusi secara penuh pada permasalahan lingkungan.

Bibliography

BPS. (2021, February 1). Jumlah kunjungan wisman ke Indonesia bulan Desember 2020 mencapai 164,09 ribu kunjungan. Badan Pusat Statistik. Retrieved May 31, 2021, from https://www.bps.go.id/pressrelease/2021/02/01/1796/jumlah-kunjungan-wisman-ke-indonesia-bulan-desember-2020-mencapai-164-09-ribu-kunjungan-.html

egsa ugm. (2021, February 11). Pariwisata Indonesia di Tengah Pandemi. EGSA FAIR. Retrieved May 31, 2021, from https://egsa.geo.ugm.ac.id/2021/02/11/pariwisata-indonesia-di-tengah-pandemi/

Media Indonesia. (2021, April 15). Galakkan Wisata Alam Virtual di Masa Pandemi Covid-19 Sumber: https://mediaindonesia.com/humaniora/398330/galakkan-wisata-alam-virtual-di-masa-pandemi-covid-19. mediaindonesia.com. Retrieved May 31, 2021, from https://mediaindonesia.com/humaniora/398330/galakkan-wisata-alam-virtual-di-masa-pandemi-covid-19

Sulaiman, M. R. (2020, April 22). Hari Bumi, Ini 5 Sisi Positif Wabah Virus Corona Bagi Lingkungan. Suara.com. Retrieved May 31, 2021, from https://www.suara.com/health/2020/04/22/133222/hari-bumi-ini-5-sisi-positif-wabah-virus-corona-bagi-lingkungan?page=all

Leave a Reply