Tradisi Toraja: Passiliran, Buaian Terakhir Jenazah Para Bayi Tana Toraja

Tradisi Toraja: Passiliran, Buaian Terakhir Jenazah Para Bayi Tana Toraja

Tana Toraja menjadi sangat mendunia karena mempunyai beberapa tradisi pemakaman yang unik. Bagi masyarakat setempat kematian seseorang dianggap sebagai kesempatan terakhir untuk berbuat sesuatu hal yang baik. Mereka sangat menghargai arwah dari leluhur dan kerabat yang sudah meninggal pergi mendahului mereka. Terlebih upacara-upacara pemakaman orang Toraja bisa menelan biaya yang sangat mahal karena prosesi nya yang panjang dan megah. Salah satunya yaitu tradisi Passiliran. Mau tau selengkapnya mengenai tradisi Passiliran di Tana Toraja, yuk simak!

Desa Kambira, Asal Mula Tradisi Toraja Passiliran

Kambira adalah salah satu desa yang berlokasi di Kecamatan Sangalla, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Apabila ditempuh dari ibu kota Toraja Utara yakni Ranteppo tempat ini memang cukup jauh. Akan tetapi jika kalian ingin mengunjungi desa Kambira dengan waktu tempuh yang cepat bisa menempuhnya dari Makale, yaitu ibu kota Tana Toraja. Di desa Kambira inilah dimana berasal dan pohon tarra tumbuh dan tradisi Passiliran Tana Toraja berasal.

Lokasi desa Kambira yang menjadi asal tradisi Passiliran di Tana Toraja ini disekitarnya terdapat rerimbunan pohon bambu, sedang tak jauh dari itu terdapat keberadaan rumah adat asal Sulawesi Selatan yang bernama Tongkonan. Perpaduan keunikan yang lokasinya tak berjauhan ini tentu memberikan kemudahan bagi para wisatawan untuk menikmati pesonanya.

Pohon Tarra, Pohon Bagi Rahim Para Bayi

Pohon Tarra Tana Toraja
Foto: ensiklo.com

Serupa dengan wilayah di Tana Toraja lainnya, di Desa Kambira ini terdapat banyak keunikan dan keindahan yang bisa dinikmati oleh para wisatawan. Salah satunya adalah keberadaan pohon tarra, pohon yang berukuran sangat besar dan memiliki diameter sekitar 80 hingga 100 cm, pohon ini juga memiliki getah yang sangat banyak. Ketika kalian melihat pohon ini di bagian batangnya terdapat lubang-lubang yang dilubangi sedemikian rupa dan di dalamnya terdapat jenazah bayi dalam posisi berdiri. Lubang-lubang yang terdapat pada pohon tarra ditutup dengan ijuk pohon enau dan di dalamnya terdapat jenazah bayi yang menghadap ke arah tempat tinggal keluarganya yang berduka.

BACA JUGA : VIRTUAL TOURISM SEBAGAI SOLUSI WISATA RAMAH LINGKUNGAN

Di desa Kambira, keberadaan pohon tarra ini telah lama dimanfaatkan sebagai tempat penguburan bagi anak kecil atau bayi (baby graves). Bayi-bayi yang dikubur pada pohon tarra ini adalah bayi yang masih belum tumbuh giginya. Oleh karena itu, tradisi unik asal Tana Toraja ini disebut Passiliran karena bayi yang dikubur adalah bayi yang meninggal sebelum tumbuh gigi.

Pemilihan pohon tarra ini salah satunya karena merupakan pohon yang menghasilkan getah sangat banyak, di mana getah ini memiliki arti sebagai pengganti ASI (air susu ibu). Hal ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa masyarakat Toraja hendak mengembalikan bayi ini pada rahim ibunya. Dengan mengembalikan bayi kepada rahim ibunya, maka mereka percaya  bahwa hal tersebut akan mampu menyelamatkan bayi-bayi yang lahir di kemudian hari.

Baca juga: Kenalan Yuk! Ayam Bekisar Fauna Langka Khas Madura Dan Maskot Jawa Timur

Penempatan Jenazah Menentukan Strata Sosial

Kuburan Bayi Tana Toraja
Foto: masadena.com

Penempatan jenazah pada tradisi Passiliran di Tana Toraja menentukan strata sosial. Posisi lubang yang terdapat pada pohon tarra disesuaikan dengan strata sosialnya. Semakin tinggi posisi lubang pada pohon menandakan bahwa semakin tinggi juga strata keluarganya. Cara pemakaman seperti ini hanya dilakukan masyarakat Toraja pengikut Aluk Todolo (kepercayaan kepada leluhur).

Terdapat hal yang paling unik pada tradisi Passiliran di Tana Toraja yakni tidak terdapat aroma busuk di sekitar pohon tarra, meskipun ada banyak bayi meninggal di sana. Bahkan sesuai penuturan masyarakat adat setempat, lubang kuburan pada pohon tarra akan menutup dengan sendirinya setelah 20 tahun masa pemakamannya. Oleh karena itu, masyarakat tak pernah merasa khawatir kehabisan tempat pemakaman di pohon tarra ini.

Upacara pemakaman pada tradisi Passiliran di Tana Toraja ini dilakukan dengan sangat sederhana. Bayi yang meninggal dikuburkan dan tidak dibungkus dengan apapun, agar bayi merasa sama seperti berada di rahim ibunya. Sang ibu tidak diperbolehkan melihatnya sampai kurang lebih satu tahun, karena dipercaya bisa mengurangi kemungkinan sang ibu mendapatkan bayi sehat lagi di masa mendatang.

Dari kejauhan, pohon ini tampak seperti penuh dengan tambalan-tambalan berbentuk kotak berwarna hitam. Walaupun terdapat banyak lubang-lubang untuk dijadikan makam, pohon tarra hidup dengan baik semestinya pohon biasa. Terdapat larangan pada masyarakat di desa Kambira bahwa tidak boleh ada yang menebang pohon tarra, agar tak memutus kelanjutan hidup atau perjalanan si bayi menuju alam baka.

Bagaimana, menarik bukan mengulik tradisi Passiliran di Tana Toraja ? Nah jika kamu berkesempatan mengunjungi Tana Toraja jangan lupa untuk mampir melihat pesona keindahan pohon tarra dan tradisi Passiliran yaa.

Baca juga: Hampir Punah! Flora Dan Fauna Langka Di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Bibliography (Tradisi Toraja)

Kumparan.com. (2018, Februari 13). Infografik: Fakta Passiliran, Makam Bayi di Toraja.https://kumparan.com/kumparantravel/fakta-passiliran-kuburan-bayi-di-toraja/full

iNews (2018, November 28). Pemakaman Passiliran Toraja, Jenazah Bayi Diletakkan Posisi Duduk di Pohon Tarra. Artikel ini telah tayang di www.inews.id dengan judul “Pemakaman Passiliran Toraja, Jenazah Bayi Diletakkan Posisi Duduk di Pohon Tarra”. Sumber: https://www.inews.id/multimedia/video/pemakaman-passiliran-toraja-jenazah-bayi-diletakkan-posisi-duduk-di-pohon-tarra.

Darisandi, R. (2017, September). Tradisi Passiliran. Sumber: https://budaya-indonesia.org/Tradisi-Passiliran/. Retrieved Juni 09, 2021, from https://budaya-indonesia.org/Tradisi-Passiliran/

Setyorini, T. (2015, November 09). Sejarah dan Asal Mula Pohon Tarra. merdeka.com.

Leave a Reply