Rambu Solo dan Tongkonan : Nilai Budaya Suku Tana Toraja dalam Upacara Pemakaman Tana Toraja

Rambu Solo dan Tongkonan : Nilai Budaya Suku Tana Toraja dalam Upacara Pemakaman Tana Toraja

“Indonesia : negeri yang amat kaya akan tradisi-tradisi unik dan berasal dari berbagai suku adat, salah satunya adalah suku Toraja”.

Budaya Suku Tana Toraja sangat beragam, Suku Toraja ini menetap di pegunungan Utara, Sulawesi Selatan, Indonesia. Sebagian masyarakat Toraja menganut kepercayaan Aluk Todolo yang merupakan bagian dari agama Hindu Dharma. Mayoritas masyarakat Toraja memeluk agama Protestan dan Katolik. Sehingga, nuansa mistik masih sangat melekat pada suku Toraja. Tradisi leluhur pun masih amat sangat terjaga hingga saat ini. Kata Toraja berasal dari kata Bugis yang berarti “To Riaja : Orang yang Diam dan Tinggal di Negeri Atas“. Namun, suku Toraja dinamai oleh pemerintah Belanda pada 1909 menjadi Suku Tana Toraja. Masyarakat Tana Toraja kebanyakan berprofesi sebagai petani. Komoditas andalan masyarakat adat ini adalah sayur-sayuran, kopi, cengkeh, coklat, dan vanili.

Daya tarik dari suku Toraja adalah masyarakat setempat masih memegang erat budaya nenek moyang, seperti ritual pemakaman dan rumah adat tongkonan. Berikut penjelasan tentang upacara pemakaman adat suku Toraja dan rumah adat Tongkonan, yaitu :

1. Ritual pemakaman masyarakat adat Tana Toraja

Ritual pemakaman ini disebut sebagai Rambu Solo. Upacara ini membutuhkan biaya yang sangat mahal, sehingga mampu memperlihatkan status sosial seseorang. Semakin mewah dan besar upacara pemakaman, maka semakin menunjukkan kekayaan seseorang tersebut. Sebaliknya, jika semakin sederhana upacara pemakaman, maka menunjukkan bahwa, seseorang harus mengumpulkan uang terlebih dahulu untuk menggelar upacara tersebut. Puncak dari upacara Rambu Solo dilaksanakan di sebuah lapangan yang diiringi dengan beberapa ritual, seperti pembungkusan jenazah, pembubuhan ornamen dari benang emas dan perak pada peti jenazah, hingga penurunan jenazah ke lumbung untuk disemayamkan.

Budaya suku tana toraja

Saat menunggu upacara pemakaman berlangsung, jenazah yang sudah dibungkus dengan kain akan di simpan di rumah leluhurnya (rumah adat Tongkonan). Dalam upacara pemakaman, untuk kalangan bangsawan keluarga yang ditinggalkan akan memotong kerbau sejumlah 24 ekor hingga 100 ekor. Hal ini diperuntukkan sebagai kurban (Ma’tinggoro Tedong).

Dalam upacara pemakaman terdapat ritual Tinggoro Tedong, yaitu penyembelihan kerbau dengan cara sekali tebas. Menurut kepercayaan leluhur, kerbau merupakan hewan tunggangan bagi arwah untuk menempuh alam akhirat. Ritual lainnya adalah berupa atraksi, seperti adu kerbau, pentas musik tradisional, dan pentas tari Toraja. Atraksi adu kerbau ini biasanya disebut sebagai Silaga Tedong yang dilakukan di area persawahan yang berlumpur.

Baca juga : Mengintip Pesona Alam Pantai Nguluran melalui Teras Kaca

Budaya suku tana toraja

Namun, ternyata masih ada ritual setelah pemakaman suku Toraja, ritual ini disebut dengan Ma’Nene yang merupakan upacara mengganti pakaian dan merias jenazah yang telah lama dikuburkan. Ritual ini dilaksanakan setiap tiga tahun sekali pada bulan Agustus. Dalam ritual ini, keluarga jenazah akan membersihkan dan mendandani jenazah layaknya masih hidup. Dan para laki-laki akan membentuk lingkaran sambil menyanyikan lagu-lagu kesedihan dan kebahagiaan.

Budaya suku tana toraja

Suku Toraja memiliki berbagai jenis pemakaman, yaitu Goa, Batu Ukir, Gantung, dan Pohon. Jenis pemakaman ini akan menunjukkan status sosial masyarakat adat Toraja, seperti jenis pemakaman yang paling mahal adalah pemakaman Batu Ukir. Dimana pemakaman ini hanya diisi oleh para jenazah bangsawan.

Tidak hanya itu, terdapat pengrajin yang akan membuat patung kayu yang mirip dengan wajah orang yang sudah meninggal. Tujuannya adalah untuk menghiasi pemakaman. Sehingga, kematian di suku Toraja juga memberikan mata pencaharian bagi masyarakat Toraja. Patung-patung tersebut akan ditempatkan di atas tebing tempat pemakaman.

Budaya suku tana toraja

Suku Toraja sangat menghormati ritual kematian sebagai tanda hormat kepada orang yang sudah meninggal. Ritual kematian akan dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung selama beberapa hari.

2. Rumah adat Tongkonan

Rumah adat masyarakat Toraja disebut dengan Tongkonan. Tongkonan berasal dari kata Toraja yang berarti “duduk”. Rumah adat ini terdiri dari tumpukan kayu yang dihiasi dengan ukiran berwarna merah, hitam, dan kuning. Tongkonan juga merupakan pusat kehidupan sosial suku Toraja. Ini melambangkan hubungan yang erat kaitannya dengan para leluhur. Pada kebudayaan Toraja, terdapat 3 jenis rumah adat Tongkonan, yaitu Tongkonan Layuk yang merupakan kekuasaan tertinggi dan digunakan untuk pemerintahan. Kemudian, Tongkonan Pegambiran yang merupakan milik anggota keluarga dan memiliki wewenang eksklusif dalam kebudayaan Toraja. Terakhir, Tongkonan Batu yang merupakan milik anggota keluarga biasa yang menempatinya.

Tongkonan menjadi rumah adat yang dapat memperlihatkan identitas suku Toraja. Tongkonan pertama yang dikenal adalah Benua Puan di Merinding yang didirikan oleh Tangdilino. Rumah adat ini berbentuk tanduk kerbau dan atapnya terbuat dari daun kelapa maupun daun nipa yang mampu bertahan hingga 50 tahun. Kekokohan rumah adat ini diambil dari pilihan kayu, seperti kayu Aru atau kayu Besi yang umurnya dapat bertahan hingga puluhan tahun. Rumah adat Tongkonan juga dilengkapi dengan ornamen yang berupa simbol-simbol dan menandakan status sosial seorang pemilik rumah adat tersebut. Hal ini dihitung melalui jumlah tanduk kerbau yang terpasang di setiap atas rumah. Semakin banyak tanduk kerbau yang terpasang, maka menandakan semakin tinggi strata sosialnya. Rumah adat Tongkonan menjadi identitas unik suku Toraja. Itu adalah tradisi unik dalam proses upacara pemakaman adat Toraja serta rumah adat suku Toraja. Sehingga, Indonesia memiliki sangat banyak kebudayaan yang beragam dari berbagai sisi, bahkan kematian sekalipun.

 

Bibliography Antony, N. D. (2019, Oktober 21). Ragam Wisata Budaya Toraja yang Bikin Wisatawan Terpincut. detikNews. Kompas.com. (2021, Januari 25). Tongkonan : Rumah Adat Toraja. Kompas.com. Setiawan, S. (2021, April 4). Sejarah Suku Toraja. Guru Pendidikan.co. https://www.gurupendidikan.co.id/suku-toraja/ Wisata Sekolah. (n.d.). Nilai Budaya dan Keunikan yang Dapat Dipelajari dan Dilestarikan Kepada Anak Anda dari Suku di Tana Toraja, Indonesia. Wisata Sekolah. https://wisatasekolah.com/nilai-budaya-dan-keunikan-yang-dapat-dipelajari-dan-dilestarikan-kepada-anak-anda-dari-suku-di-tana-toraja-indonesia/

Leave a Reply