Rumah Adat Wae Rebo : Desa di Atas Awan Indonesia yang Eksotis

Rumah Adat Wae Rebo : Desa di Atas Awan Indonesia yang Eksotis

Wae Rebo merupakan sebuah desa yang memiliki rumah adat tradisional yang terletak di Kota Ruteng, dataran tinggi Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Desa Wae Rebo terletak di atas ketinggian 1200 Meter di atas permukaan laut. Sehingga, lokasinya berada di puncak gunung serta dikelilingi oleh perbukitan yang sangat asri dan tak jarang disebut sebagai Negeri di Atas Awan. Hal ini didukung dengan udaranya yang sangat sejuk dan segar. Wae Rebo kerap kali dihiasi dengan pemandangan kabut tipis setiap pagi. Kabut tipis ini akan turun ke desa dengan perlahan yang berasal dari perbukitan sekitar dan menyelimuti seluruh desa dengan kabut.

Masyarakat Wae Rebo meyakini bahwa, nenek moyangnya bernama Empo Maro yang melakukan pelayaran bersama dengan keluarganya yang berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat dan mendarat di Labuan Bajo, Flores, Nusa Tenggara Timur. Empo Maro dan keluarganya berpindah-pindah dari satu desa ke desa yang lainnya. Sampai akhirnya, Empo Maro memutuskan untuk menetap di Desa Wae Rebo setelah mendapatkan pesan melalui mimpi untuk menghabiskan hidupnya di desa tersebut.

BACA JUGA : KEUNIKAN-KEUNIKAN DESA ADAT PENGLIPURAN, BALI, INDONESIA

Dalam mimpi tersebut Empo Maro mendapatkan pesan bahwa, desa Wae Rebo memiliki dua syarat utama untuk ditempati, yaitu :

  1. Desa Wae Rebo sangat tepat untuk melakukan kegiatan cocok tanam sebagai bahan makanan.
  2. Desa Wae Rebo tidak sepadat desa lainnya, sehingga kesehatan lebih terjamin.

Segala bentuk tradisi, bangunan, budaya, hingga keyakinan masih dipegang teguh oleh masyarakat Wae Rebo. Keunikan dari desa Wae Rebo sendiri ialah :

  1. Hanya memiliki 7 bangunan rumah yang memiliki bentuk yang sama dari dahulu hingga saat ini.
  2. Bahan bangunan menggunakan bahan alam yang ada.
  3. Terdapat bangunan khusus yang terletak di sekitar bangunan yang disebut dengan compang.
  4. Nama setiap rumah mengacu pada nama leluhurnya.
  5. Pada bulan April – Agustus, wisatawan dapat memetik jeruk yang ditanam oleh masyarakat desa Wae Rebo.
  6. Terdapat tradisi khusus membuat kopi khas desa Wae Rebo.

UNESCO memberikan penghargaan Award UNESCO Pacific for Culture Heritage Conservation pada Agustus 2012 (penghargaan tertinggi di bidang warisan budaya UNESCO) dan desa adat Wae Rebo mampu menyisihkan 42 negara lain. Hal ini diperhitungkan melalui nilai warisan budaya yang masih lestari hingga saat ini.

Terdapat beberapa aturan yang harus dipatuhi saat mengunjungi desa Wae Rebo, salah satunya adalah membunyikan alat tradisional yang terbuat dari bambu yang bernama pepak (bentuknya sama persis dengan kentungan). Pepak dibunyikan untuk menjadi sebuah tanda jika desa Wae Rebo sedang kedatangan tamu. Desa Wae Rebo buka selama 24 jam dan wisatawan dapat menginap di rumah penduduk setempat yang sangat ramah. Untuk sampai di desa Wae Rebo, wisatawan harus melakukan pendakian selama 2-3 jam dan melewati daerah terpencil yang dikelilingi hutan yang belum terjamah, dan menyebrangi sungai serta bibir jurang. 

BACA JUGA : TRADISI TORAJA: PASSILIRAN, BUAIAN TERAKHIR JENAZAH PARA BAYI TANA TORAJA

Wae Rebo memiliki daya tarik yang tinggi bagi wisatawan. Rumah adat di desa Wae Rebo memiliki bentuk yang kerucut dan atapnya terbuat dari daun lontar. Hasil kerajinan tangan yang dibuat oleh masyarakat setempat, seperti kopi, vanili, dan kayu manis menjadi cendera mata yang dapat dibawa pulang oleh wisatawan dengan harga yang terjangkau. 

Desa Wae Rebo hanya memiliki 7 rumah adat saja dan setiap rumah ditempati oleh 6-8 keluarga. Setiap wisatawan yang datang akan disambut di Mbaru Niang yang terdiri dari 5 lantai dengan atap daun lontar dan ditutupi oleh daun ijuk, serta telah disediakan bantal dan selimut oleh masyarakat setempat. Mbaru Niang memiliki tinggi sekitar 15 Meter. Dimana setiap lantai sudah diperuntukkan fungsinya, seperti tempat tinggal hingga ritual adat (berdoa bersama setiap Minggu pagi). Setiap wisatawan akan disambut dengan suguhan kopi Flores sebagai welcome drink di Mbaru Niang

Desa Wae Rebo juga memiliki bulan yang istimewa, yaitu bulan November. Dimana setiap bulan November, masyarakat Wae Rebo mengadakan Upacara Adat Penti, yaitu upacara perayaan untuk mengucapkan rasa syukur atas hasil panen yang didapatkan dalam setahun. Saat perayaan, masyarakat akan mengenakan pakaian adat lengkap. Wae Rebo juga melakukan upacara penyambutan untuk para wisatawan. Upacara sambutan tersebut dinamakan sebagai Upacara Waelu. Upacara sambutan ini dilakukan untuk memperlihatkan ucapan selamat datang kepada wisatawan, yang dipimpin oleh ketua suku. Upacara ini juga diiringi dengan doa kebaikan dan keselamatan. 

Hal unik lainnya adalah pintu rumah adat Wae Rebo dibentuk menghadap ke Compang. Hal ini dianggap sebagai aktivitas untuk mendekatkan diri kepada alam dan leluhur dengan berbagai ritual. Uniknya lagi, saat upacara kemerdekaan, bendera merah putih akan dipasang di atap rumah masing-masing. Masyarakat juga melaksanakan upacara hari kemerdekaan untuk turut memperingatinya. 

Meskipun Wae Rebo sempat ditutup sementara saat pandemi Covid-19 berlangsung, namun saat ini Wae Rebo telah dibuka kembali. Pada September, 2020 Gubernur Nusa Tenggara Timur melakukan kunjungan program kerja ke Wae Rebo. Dimana kegiatan yang dilaksanakan adalah Gerakan BISA (Bersih, Indah, Sehat, dan Aman). Serta bertujuan untuk memberikan pendampingan terkait protokol kesehatan kepada masyarakat adat Wae Rebo. Biasanya sebelum pandemi Covid-19, wisatawan membeli paket perjalanan wisata ke desa adat Wae Rebo. 

BACA JUGA : RUWATAN RAMBUT GIMBAL: TRADISI MISTIS DARI WONOSOBO

Sepanjang 700 Meter sebelum memasuki desa Wae Rebo, terlihat perkebunan kopi robusta yang menjadi komoditas warga. Hasil kopi tersebut menjadikan warga mampu untuk menyekolahkan anak-anaknya bahkan hingga ke perguruan tinggi. Kopi robusta ini pertama kali ditanam pada 1960, hingga saat ini kopi menjadi daya tarik wisatawan. Dalam hal ini, tugas para lelaki adalah mengurus kebun kopi, sedangkan perempuan menenun kain yang disebut tenun cura. Wisatawan juga dapat menyaksikan cara memanen, memetik, menjemur, menggoreng , hingga menggiling kopi robusta. 

Keunikan Desa Wae Rebo tidak hanya dari sejarahnya, namun juga bentang alam yang mampu menarik wisatawan hingga ke mancanegara. Desa Wae Rebo seakan-akan berada di antara langit dan bumi, sehingga menjadikan Wae Rebo sebagai salah satu tempat favorit kunjungan wisatawan.

Bibliography

Akbar, C. (2021, June 4). Kala Budi Karya Traktir Anies Baswedan Segelas Kopi Starling. Tempo.co. https://bisnis.tempo.co/read/1468835/kala-budi-karya-traktir-anies-baswedan-segelas-kopi-starling

Kompas.com. (2018, March 23). https://www.nativeindonesia.com/desa-wae-rebo/. Kompas. https://travel.kompas.com/read/2018/03/23/153100227/5-fakta-menarik-tentang-wae-rebo-di-flores?page=all#page2

Kompas.com. (2020, August 3). Desa Wae Rebo Flores, Kampung di Atas Awan yang Masih Tutup untuk Turis Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Desa Wae Rebo Flores, Kampung di Atas Awan yang Masih Tutup untuk Turis”, Klik untuk baca: https://travel.kompas.com/read/2020/08/. Kompas.comhttps://travel.kompas.com/read/2020/08/03/180900827/desa-wae-rebo-flores-kampung-di-atas-awan-yang-masih-tutup-untuk-turis?page=all#page2.

Rudi. (2021, April 12). Desa Wae Rebo, Keunikan Yang Terkenal Hingga Mancanegara. NativeIndonesia.com. https://www.nativeindonesia.com/desa-wae-rebo/

Tour Flores Komodo. (n.d.). Sejarah Kampung Wae Rebo. Tour Flores Komodo. https://www.tourfloreskomodo.com/sejarah-kampung-wae-rebo/

Tribun Travel. (2019, November 11). 5 Fakta Unik Wae Rebo, Desa di Atas Awan di NTT Artikel ini telah tayang di TribunTravel.com dengan judul 5 Fakta Unik Wae Rebo, Desa di Atas Awan di NTT, https://travel.tribunnews.com/2019/11/11/5-fakta-unik-wae-rebo-desa-di-atas-awan-di-ntt. Editor: A. Tribun Travel. https://travel.tribunnews.com/2019/11/11/5-fakta-unik-wae-rebo-desa-di-atas-awan-di-ntt

Leave a Reply