Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 bagi Indonesia Sumber: https://www.timesindonesia.co.id

Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 bagi Indonesia

Sumber: https://finance.detik.com
Sumber: https://www.timesindonesia.co.id

1. Perkembangan Industri 4.0 dan Society 5.0

Revolusi industri merupakan suatu perubahan cara hidup manusia ataupun proses kerja secara mendasar dan kemajuan teknologi informasi dapat menyatukan antara dunia kehidupan dan digital. Hadirnya revolusi Industri 4.0 membawa tingkat kemajuan teknologi. Teknologi manufaktur telah masuk secara otomasi dan pertukaran data pada revolusi Industri 4.0. Hal tersebut meliputi sistem cyber-fisik, Internet of Things (IOT), komputasi awan, dan komputasi kognitif.

Revolusi Industri 4.0 membawa beberapa tantangan bagi Indonesia, yaitu kurangnya keterampilan, masalah keamanan teknologi komunikasi, keandalan stabilitas mesin produksi, ketidakmampuan pemangku kepentingan untuk berubah, serta banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan karena berubah menjadi otomasi.

Di samping itu, Jepang menyatakan bahwa dunia akan memasuki era Society 5.0 atau masyarakat 5.0 dan masyarakat akan berpusat pada manusia (human-centered) yang dikembangkan oleh Jepang. Jepang akan semakin populer dengan menggunakan Internet of Things (IOT), big data, artificial intellegence (AI), robot, dan sharing economy yang berfokus pada humanisme.

Perbedaan antara Industri 4.0 dan Society 5.0, yaitu pada Industri 4.0, masyarakat mencari, mengutip, dan menganalisis data atau informasi melalui internet. Sedangkan, di era Sociey 5.0 big data yang dikumpulkan melalui internet akan dianalisis oleh kecerdasan buatan, kemudian hasilnya akan kembali ke manusia dalam ruang fisik dengan berbagai bentuk.

Kantor Kabinet Jepang mendefinisikan Society 5.0 sebagai sebuah masyarakat yang berpusat pada manusia dan menyeimbangkan kemajuan ekonomi dengan penyelesaian masalah sosial melalui sistem yang menyatukan ruang maya dan ruang fisik. 

Di era Society 5.0 bahwa kecerdasan buatan atau artifiacial intellegence akan mengubah big data yang dikumpulkan melalui internet menjadi suatu kebijaksanaan yang baru untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan manusia dalam peluang-peluang.

Transformasi digital menciptakan peluang jenis pekerjaan baru, meskipun di sisi lain ada beberapa pekerjaan yang hilang karena telah tergantikan secara otomasi. Teknologi digital telah mentransformasi cara dan gaya hidup kekinian. Percepatan transformasi teknologi digital membuat harga ponsel dan biaya internet semakin murah dan terjangkau (RahmaYunda, 2019).

Penggunaan teknologi digital di Indonesia pada tahun 2018, yaitu pertama, penggunaan internet sudah mencapai 132,7 juta atau 50 persen dari penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar 265,4 juta jiwa. Kedua, penggunaan media sosial sekitar 130 juta atau 49 persen dari penduduk Indonesia. Ketiga, penggunaan ponsel sekitar 177,9 juta atau 67 persen dari penduduk Indonesia. Keempat, penggunaan mobile social media sekitar 120 juta atau 45 persen dari penduduk Indonesia. Sementara itu, penggunaan robot dalam industri masih relatif sedikit jika dibandingkan dengan program padat karya yang menyerap banyak tenaga kerja.

Meski Indonesia sebagai pasar media sosial terbesar di Asia Tenggara, tetapi industri di bidang teknologi komunikasi masih terbatas. Negara harus bisa menguasai saham provider IT terutama Telkom dan Indosat agar dapat mengendalikan dan mengamankan kepentingan nasional sehingga big data tidak disalahgunakan.

Pertumbuhan sektor industri manufaktur dan industri-industri lainnya masih berada di bawah 5 persen. Oleh karena itu, kedepannya Indonesia harus meningkatkan pembiayaan riset (research) dan pengembangan (R & D) lebih besar agar dapat bersaing dengan negara-negara lain. Kemudian, intelijen industri perlu dikembangkan sebagai sarana pendukung dalam pengembangan dan perluasan bisnis global dari industri-industri nasional yang Indonesia miliki.

Selain itu, pengembangan dan pengelolaan industri-industri sebagai strategis nasional harus dijauhkan dari kepentingan politik ataupun elite partai politik, sehingga kepentingan nasional tercapai.

2. Indonesia memacu industri yang memiliki daya saing global dalam perpaduan era Industri 4.0 dan Society 5.0

Indonesia terus membangun industri yang memiliki daya saing global melalui percepatan Industri 4.0. Indonesia melakukan berbagai strategi, salah satunya dengan peluncuran Making Indonesia 4.0.

Making Indonesia 4.0 diharapkan dapat memberi jalan bagi industri nasional ke depannya dan befokus pada lima sektor manufaktur, yaitu makanan dan minuman, tekstil, otomotif, elektronik, dan kimia. Kelima industri tersebut diharapkan membawa dampak  yang besar dalam daya saing global dan berkontribusi besar terhadap ekonomi Indonesia, sehingga Indonesia bisa masuk 10 negara di dunia dengan ekonomi terbesar pada tahun 2030.

Implementasi Industri 4.0, adanya lapangan kerja baru, dan investasi baru yang berbasis teknologi diharapkan dapat menjadi daya tarik investasi asing, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), pembuatan ekosistem inovasi, tambahan penghasilan untuk investasi teknologi, serta keselarasan aturan dan kebijakan.

Di samping itu, Industri 4.0 yang menggunakan teknologi, data, dan automatisasi tetap  memiliki sentuhan humanisme di dalam Society 5.0, sehingga dapat diterima oleh masyarakat Indonesia bahkan dunia.

Indonesia dapat mempercepat transformasi masyarakat melalui Society 5.0. Bagi Indonesia perpaduan Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 tidak menjadi masalah, bahkan keduanya dapat dijadikan roadmap atau blue print nasional bagi Indonesia.

Selain itu, Indonesia juga perlu memikirkan energi listrik yang mutlak untuk akses teknologi digital. Kegagalan listrik atas perangkat keras IT menyebabkan kegagalan semua akses dan aktivitas digital kedepannya. Hal ini sangat krusial karena mengingat ketersediaan energi yang dimiliki Indonesia saat ini dan masa yang akan datang menjadi masalah yang sangat serius, bahkan bisa menyebabkan krisis energi.

Indonesia dalam produktivitas bahan bakar minyak (BBM) hanya bisa mencukupi 48 persen kebutuhan nasional. Hal itu menjadikan Indonesia berada pada status darurat energi. Oleh karena itu, perlu langkah-langkah untuk memperluas bisnis hingga mancanegara secara cerdas, cermat, dan profesional. Sumber kekayaan alam (SKA) indonesia jangan hanya menjadi tarik menarik kepentingan, seperti kepentingan asing. Demografi Indonesia harus menjadikan peluang dalam peningkatkan kapasitas dan kualitas profesionalisme dan nasionalisme yang tinggi, sehingga memiliki daya saing global yang tinggi dan membanggakan.  

Kesadaran dan komitmen harus dibangun bersama, baik pemerintah, dunia usaha, maupun masyarakat. Pemerintah maupun perusahaan harus mempersiapkan perencanaan yang jelas dan pembiayaan yang cukup dalam pelaksanaan up skilling, social security net, and funding. Kedepannya, Indonesia diharapkan mampu menjadi agent of technology dengan sumber daya manusia (SDM) yang unggul. Ketakutan dan pikiran negatif terhadap perkembangan industri dan paradigma jika tekonologi itu sulit juga harus dihilangkan, karena perubahan besar dalam industri itu tidak bisa dihindarkan (Indonesia, 2019).

Daftar Pustaka

Indonesia, P. N. (2019, September 9). Arah Baru Perpaduan Era Revolusi 4.0 dan Masyarakat 5.0. Retrieved Juli 7, 2020, from perpusnas: https://www.perpusnas.go.id/news-detail.php?lang=id&id=190909120720WqveYfDn9V

RahmaYunda, N. (2019, Mei 26). Dampak Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 Menciptakan Kesempatan Baru bagi Indonesia. Retrieved Juli 7, 2020, from kompasiana: https://www.kompasiana.com/ nadyarahma/5ce9fbeb3ba7f7658c7d 5a23/dampak-revolusi-industri-4-0-dan-society-5-0-menciptakan-kesempatan-baru-bagi-indonesia?page=all

2 thoughts on “Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 bagi Indonesia

Leave a Reply