Bukit Sekipan Tempat Wisata di Tawangmangu

Bukit Sekipan Tempat Wisata di Tawangmangu

Bukit Sekipan Tempat Wisata di Tawangmangu
Gambar: travel.kompas.com

Bukit Sekipan tempat wisata di Tawangmangu, yang merupakan sebuah kecamatan yang berada di kaki gunung Lawu, tepatnya di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Wilayah ini terkenal dengan suhunya yang dingin, pemandangannya yang indah, dan destinasi wisatanya. Jadi, untuk kalian yang sedang penat dengan hingar bingar ibukota, daerah ini cocok banget untuk refreshing. Enak banget, ‘kan liburan di tempat yang sejuk, selain bikin pikiran lebih tenang, bikin mood naik juga. Salah satu destinasi wisata yang terkenal dan lagi hits di Tawangmangu adalah Bukit Sekipan. Meskipun namanya Bukit Sekipan, namun tenang saja, di tempat ini kalian tidak hanya akan menemukan bukit saja, namun juga kalian bisa menemukan berbagai wahana yang menarik.

      Bukit Sekipan Bukit Sekipan tempat wisata di Tawangmangu yang baru terkenal beberapa tahun belakangan ini, karena memang, dulunya di sini belum terdapat berbagai wahana seperti saat ini. Dilansir dari wisatabagus.com, dahulu tempat ini adalah tempat pelatihan militer tentara Belanda bernama Sekar Jinggo. Nama ‘Sekipan’ yang digunakan sekarang juga berasal dari bahasa Belanda yang artinya sasaran tembak atau lapangan tembak. Hal ini dibuktikan dengan adanya penemuan berupa tandon yang bernama Candi Sekar Jinggo. Setelah lama terbengkalai, akhirnya di tahun 2015, Bukit Sekipan dibangun dan menjadi salah satu destinasi wisata favorit para wisatawan.

         Untuk mencapai Bukit Sekipan tempat wisata di Tawangmangu, kalian memerlukan waktu sekitar 1 hingga 1,5 jam dari Solo dengan menggunakan transportasi umum maupun pribadi. Memang rutenya sedikit menyeramkan bagi sebagian orang, karena jalanan yang dilewati berlika-liku, namun tenang saja, jalannya aman dan terawat, kok! Jika kalian takut tersesat, kalian juga bisa menggunakan maps, kok. Bukit Sekipan buka dari jam 8 pagi hingga 6 sore, jadi nggak usah khawatir kekurangan waktu untuk explore semua wahana di sini, ya! Karena jam operasionalnya cukup lama, dan waktu tersebut sangat cukup untuk menikmati berbagai wahana di sini. Jika belum puas menikmati wahana di siang hari, kalian bisa menikmati malam kalian di Bukit Sekipan Night atau Taman Lampion yang dibuka setiap hari Sabtu mulai pukul 6 sore hingga 10 malam. Berikut beberapa fasilitas yang dapat kalian nikmati di Bukit Sekipan.

1.  Spot Foto Unik

Berwisata tanpa mengabadikan foto rasanya ada yang kurang, ya? Nah, di Bukit Sekipan, kalian nggak perlu khawatir karena di sini banyak spot foto yang keren. Di sini kalian bisa menemukan Rumah Terbalik, di mana perabotan yang ditaruh di ruangan ini sengaja ditata terbalik. Untuk hasil fotonya, nggak perlu diraguin lagi, hasilnya lucu dan unik banget!

Spot unik lainnya yaitu Kampung Halloween. Sesuai dengan namanya, di Kampung Halloween, kalian bisa menemukan berbagai patung hantu yang bisa kalian jadikan teman berfoto. Selain itu, di sini juga ada miniatur tempat-tempat keren di dunia seperti menara Eiffel, Taj Mahal, dan menara Pisa yang cocok untuk dijadikan background foto. Tidak hanya miniatur tempat-tempat terkenal di dunia, di Bukit Sekipan kalian juga bisa menemukan rumah-rumah adat khas Indonesia seperti rumah Hanoi dan Joglo.

2.  Waterboom Mini

Selain berfoto-foto dan menikmati indahnya pemandangan pegunungan, kalian yang ingin bermain air bisa mengunjungi tempat ini. Waterboom mini di sini juga sudah dilengkapi permainan-permainan yang cocok banget jika kalian ke sini bersama teman-teman atau keluarga kalian, apalagi kalau bawa anak-anak, pasti tambah seru. Air di waterboom ini juga berasal dari pegunungan, loh! Jadi, pastinya airnya sejuk banget.

Baca juga : Labuan Bajo : Pelesiran ke Tempat Wisata Paling Populer

3.  Wisata Outbond

Di area outbond ini, kalian bisa menikmati berbagai wahana seperti flying fox, roller coaster, jembatan goyang, dan masih banyak lagi. Bagi yang membawa anak ke tempat ini, bisa banget selain diajak berenang di waterboom, diajak untuk outbond juga untuk bermain sekaligus melatih ketangkasan motorik anak,

4.  Wisata Salju dan Rumah Kaca

Dikutip dari setapaklangkah.com, salah satu fasilitas unik dan epic di Bukit Sekipan adalah wisata salju. Di sini, kalian bisa ngerasain vibes ala-ala di luar negeri gitu, guys! Selain itu, juga ada Rumah Kaca yang cocok banget dikunjungi terlebih jika kalian adalah tipe orang yang suka dengan tantangan. Karena di Rumah Kaca, kalian harus menemukan jalan keluar, tapi di sini ada pantulan cermin yang bisa bikin kalian bingung dalam menemukan jalan keluar tersebut. Terdengar seru, ‘kan?

         Nah itu dia beberapa wahana dan fasilitas yang dapat kalian nikmati di Bukit Sekipan. Di sekitar Bukit Sekipan juga terdapat banyak villa, hotel, dan penginapan lainnya yang bisa kalian kunjungi untuk beristirahat. Jika kalian merasa masih punya banyak waktu tersisa dan masih ingin mengunjungi tempat wisata lainnya di Tawangmangu selain Bukit Sekipan, kalian bisa juga mengunjungi Taman Balekambang yang letaknya dekat dengan Bukit Sekipan. Tertarik untuk berkunjung?

Referensi

Putri Aprilia. 2020. “Serunya Wisata Bukit Sekipan Tawangmangu”. https://setapaklangkah.com/wisata-bukit-sekipan-tawangmangu/

Wisatabagus.com. “Bukit Sekipan”. https://wisatabagus.com/bukit-sekipan/

Ritual misterius dari Tana Toraja, keberagaman budaya di Indonesia juga kerap menjadi daya tarik wisatawan dalam maupun luar negeri. Salah satu daerah yang budayanya terkenal untuk menjadi destinasi wisata adalah Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Tana Toraja memang terkenal dengan warisan budayanya yang kaya dan unik, salah satunya adalah ritual Ma’nene.

         Ritual Ma’nene bisa dibilang sebagai salah satu ritual misterius dari tana Toraja yang menyeramkan dan misterius, karena kegiatan ritual ini adalah membersihkan jasad leluhur yang sudah meninggal sejak ratusan tahun yang lalu. Dilansir dari kumparan.com, saat ini memang ritual ini sudah mulai jarang dilakukan, namun masih ada beberapa daerah yang mempertahankan warisan budaya ini, contohnya Desa Pangala dan Baruppu yang masih rutin melakukan kegiatan ini. Ma’nene dilakukan setiap tiga tahun sekali agar sanak saudara yang berada jauh dari sana bisa datang dan mengikuti ritual adat ini.

         Bagi orang awam, ritual misterius dari tana Toraja yang dilaksanakan setiap bulan Agustus ini dianggap sebagai ritual yang menyeramkan, namun tidak bagi masyarakat di sana yang sudah terbiasa melakukan ritual ini selama bertahun-tahun. Layaknya pernikahan, kematian adalah suatu momen yang penting untuk dirayakan. Meskipun tidak ada aturan tertulisnya, namun tradisi ini sudah menjadi standar tidak tertulis di sana. Ma’nene bukan sekadar ritual biasa, namun Ma’nene merupakan simbol pentingnya hubungan keluarga di Tana Toraja, khususnya dengan mereka yang sudah meninggal dunia. Ma’nene juga menjadi momen untuk berkumpul dengan seluruh sanak saudara. Acara ini begitu sakral sehingga para anggota keluarga yang merantau ke luar daerah pun biasanya berusaha untuk pulang sehingga bisa mengikuti prosesi ini.

         Ma’nene mempunyai dua makna. Yang pertama Ma’nene berasal dari kata nene atau nenek yang berarti leluhur atau orang yang sudah tua. Yang kedua, nene dimaknai sebagai orang yang sudah meninggal dunia, baik yang sudah tua maupun yang masih muda. Kemudian diberi tambahan kata ma di depannya yang diartikan dengan “merawat mayat”.

Proses Ritual Ma’nene

         Mengutip dari Jurnal Candrasangkala Volume 4 Nomor 2 Tahun 2018 berjudul Tradisi Ma’nene sebagai Warisan Budaya Etnis Toraja yang ditulis oleh Rudy Gunawan dan Merina, ritual Ma’nene biasanya dilakukan secara bersama-sama satu keluarga bahkan satu desa, sehingga rangkaian acaranya berlangsung cukup lama. Prosesi ini diawali dengan datangnya anggota keluarga ke Patene, kuburan yang bentuknya mirip seperti rumah, untuk mengambil jasad keluarganya yang sudah meninggal. Sesudah jasad dikeluarkan dari Patene, jasad itu kemudian dibersihkan dan pakaiannya digantikan dengan pakaian atau kain yang baru.

         Bagi jasad pria, biasanya akan dikenakan jas hingga kacamata, sedangkan jasad wanita biasanya akan dikenakan gaun pengantin. Ketika sudah selesai dikenakan pakaian baru, jasad kembali dibungkus dan dimasukkan ke dalam Patene. Akhir dari prosesi ini adalah Sisemba. Sisemba merupakan acara silaturahmi antar keluarga yang dilaksanakan dengan cara makan bersama. Makanan yang disajikan juga bukan makanan sembarangan, atau harus berasal dari sumbangan tiap keluarga leluhur. Para anggota keluarga berkumpul di rumah adat Tongkonan untuk melakukan ibadah bersama-sama.

         Untuk mengadakan ritual misterius dari tana Toraja ini diperlukan biaya yang tidak sedikit. Sehingga biasanya yang melakukan acara ini berasal dari keluarga bangsawan. Umumnya, ritual Ma’nene dilakukan sebelum musim tanam menggunakan dana yang dihasilkan dari panen sebelumnya. Namun banyak pula yang rela menjual tanah atau meminjam uang untuk bisa menyelenggarakan upacara ini.

Baca juga : Tradisi Unik Sebelum Pernikahan ala Suku Sasak

Sejarah Tradisi Misterius Ala Tana Toraja

         Ritual misterius dari tanah Toraja ini ada tentu karena ada sesuatu yang melatarbelakanginya. Dikutip dari tirto.id, beratus-ratus tahun yang lalu, ada seorang pemburu bernama Pong Rumasek yang berasal dari Toraja sedang berburu ke hutan Pegunungan Balla. Ketika sedang berburu ia menemukan sesosok mayat yang tergeletak di jalan dengan kondisi yang mengenaskan. Melihat hal itu, Pong pun melepaskan pakaiannya dan mengenakannya pada jasad yang ia temukan. Setelah selesai mengenakan pakaiannya pada jasad tersebut, Pong memindahkan mayat tersebut ke tempat yang lebih aman dan melanjutkan perburuannya.

         Ketika sampai di rumah, Pong heran, sebab ia mendapati hasil panen dan perkebunannya berlimpah lebih cepat dari waktu yang seharusnya. Tidak hanya itu, bahkan setiap kali ia berburu, ia tidak mengalami kesulitan lagi, tidak hanya berburu binatang namun juga buah-buahan. Setelah kejadian yang dialami Pong, setiap kali ia ke hutan, Pong bertemu dengan orang mati yang waktu itu ia rawat. Karena kejadian inilah, Pong percaya bahwa tidak hanya manusia yang masih hidup yang harus dimuliakan, namun orang mati pun juga harus dimuliakan.

         Karena apa yang dialami oleh Pong, maka masyarakat Toraja juga ikut melakukan tradisi ini, dengan harapan apa yang terjadi oleh Pong juga akan terjadi pada mereka.

Referensi

Kumparan. 2020. “Mengenal Ma’Nene, Ritual Mengganti Pakaian Mayat di Toraja, Sulawesi Selatan”. https://kumparan.com/kumparantravel/mengenal-manene-ritual-mengganti-pakaian-mayat-di-toraja-sulawesi-selatan-1tBLo7QWmt8/full

Iswara N. Raditya. 2017. “Makna Kematian di Balik Ritus Ma’nene”. https://tirto.id/makna-kematian-di-balik-ritus-manene-cy8h

Rudy Gunawan, Merina. Tradisi Ma’nene sebagai Warisan Budaya Etnis Toraja. Jurnal Candrasangkala. Vol 4 No.2 Tahun 2018

Leave a Reply