Mengenal Indonesia

5 Buku Keren Karya Penulis Indonesia

5 Buku Keren Karya Penulis Indonesia

Share this :
5 Buku Keren Karya Penulis Indonesia
Gambar: takselesai.com

5 buku keren karya penulis Indonesia. Di negara kita, ada banyak sekali penulis berbakat yang menghasilkan karya-karya yang bisa kita baca. Apalagi selama pandemi ini kita dihadapi dengan rasa bosan karena salah satu kebijakan yang menganjurkan kita untuk lebih sering berada di rumah daripada ke luar rumah untuk memutus rantai penyebaran virus Corona. Ada banyak cara untuk menghadapi rasa bosan itu, bisa dengan menonton film atau series, memasak, membaca buku, dan lain sebagainya. Kalau saya sendiri, sebagai seorang bookish, senang menghabiskan waktu saya dengan membaca buku.

Hebatnya penulis di Indonesia juga bukan kaleng-kaleng, loh! Banyak penulis Indonesia yang sudah mengukir prestasi di kancah internasional, seperti Pramoedya Anantra Toer, atau yang sering dikenal sebagai Eyang Pram, bukunya telah diterbitkan ke dalam 41 bahasa asing dan meraih penghargaan dari luar negeri. Kemudian ada Eka Kurniawan yang meraih penghargaan di Belanda pada tahun 2018, ada juga Ayu Utami yang meraih penghargaan Claus Award di tahun 2000, dan masih banyak lagi penulis berprestasi dari tanah air kita tercinta ini. Nah, di tulisan ini, saya akan merekomendasikan 5 Buku Keren Karya Penulis Indonesia yang wajib kalian baca setidaknya satu kali seumur hidup!

1. Tetralogi Buru

5 Buku Keren Karya Penulis Indonesia
Gambar: kompasiana.com

Tetralogi Buru adalah serial karya Pramoedya Ananta Toer atau Eyang Pram yang sudah sangat mendunia. Serial ini terdiri dari empat buku, yaitu Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Pram menulis buku-buku tersebut ketika beliau ditahan di Pulau Buru. Oh iya, Tetralogi Buru ini adalah buku dengan latar belakang sejarah ya, guys! Jadi, buat kalian yang ingin mengetahui sejarah Indonesia lebih dalam lagi dengan cara yang tidak membosankan, buku ini cocok banget untuk kalian.

Buku pertama dalam serial ini adalah Bumi Manusia. Dalam buku Bumi Manusia, Pram menceritakan betapa tertindasnya kaum pribumi saat berada di bawah penjajahan kolonial. Karena saat itu, kaum pribumi termasuk ke dalam kasta paling rendah dalam strata sosial yang tidak jarang terkena diskriminasi dan penindasan. Tokoh utama dalam buku ini bernama Minke, seorang putra pribumi yang cerdas. Melihat bangsanya yang tertindas, Minke pun menulis tentang ketidakadilan bagi kaum pribumi yang kemudian tulisan tersebut dimuat di surat kabar. Di dalam buku ini juga dikisahkan tentang kehidupan percintaan yang pahit antara Minke dan istrinya, Annelies. Buku ini juga sudah diangkat menjadi film oleh Hanung Bramantyo.

Di buku selanjutnya yaitu Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca berisi tentang perjuangan Minke selanjutnya dengan cara membangun pers, melanjutkan sekolah, terus menulis tentang apa yang terjadi pada bangsanya, dan masih banyak lagi. Namun, Minke ditangkap, ditahan, dan diasingkan oleh pemerintah kolonial karena aksinya itu. Oh iya, sosok Minke ini memang fiktif namun berdasarkan kisah nyata yaitu Tirto Adhi Soejo.

Buku karya beliau sempat dilarang untuk diterbitkan dan diperjualbelikan semasa pemerintahan Orde Baru (Orba) karena dianggap mengandung paham ‘kiri’. Namun, setelah pemerintahan Orba selesai, buku ini kembali diperjualbelikan dan diterbitkan, bahkan buku ini termasuk ke dalam buku best-seller di beberapa gerai toko di Indonesia.

2. Laut Bercerita

5 Buku Keren Karya Penulis Indonesia
Gambar: togamas.com

Buku selanjutnya yang highly recommended menurut saya adalah Laut Bercerita karya Leila. S. Chudori. Buku ini bercerita tentang seorang mahasiswa bernama Laut yang merupakan seorang aktivis pada masa pemerintahan Orba. Namun sayang, akhirnya Laut dan teman-temannya tertangkap. Mereka diculik dan ditahan, ada yang akhirnya kembali dan ada yang tidak. Laut termasuk yang tidak kembali, ia akhirnya dibuang ke lautan. Di dalam buku ini Leila juga akan mengenalkan tokoh-tokoh lainnya yang sangat mendukung cerita ini, seperti Alex, Anjani, Daniel, Kinan, dan teman-teman Laut lainnya.

Alur yang digunakan dalam buku ini maju-mundur, namun tenang saja, kalian akan dengan mudah paham karena penjelasannya sangat detail. Di awal hingga pertengahan, sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang Laut, namun ketika Laut ‘hilang’, sudut pandangnya berubah menjadi sudut pandang adiknya, Asmara. Buku ini cukup menguras emosi, saya sendiri yang membaca waktu itu sempat meneteskan air mata, dan sepertinya jika diminta untuk membaca buku ini lagi, saya tetap akan meneteskan air mata ketika membacanya.

Baca Juga : Tari Bungong Jeumpa: Sejarang dan Makna DIbalik Keelokan Gerakannya

3. Entrok

5 Buku Keren Karya Penulis Indonesia
Gambar: goodreads.com

Buku yang kali ini datang dari penulis favorit saya yaitu Okky Madasari. Buku ini adalah buku yang membuat saya benar-benar penasaran dengan buku-buku lain dari Okky Madasari. Dan setelah membaca Entrok, wow… saya benar-benar sejatuh cinta itu dengan karya-karya beliau. Seperti buku-buku Okky lainnya, buku ini juga mengusung tema sosial politik. Selain tema sosial politik, karena buku ini banyak bercerita tentang bagaimana perempuan bertahan hidup, tentang bagaimana perempuan harusnya memiliki kebebasan untuk memilih apapun pilihan hidupnya, maka menurut saya buku ini juga ada unsur-unsur feminismenya.

Novel ini mengambil latar tahun 1950-1990an. Secara garis besar, novel ini mengisahkan tentang dua orang wanita yaitu Marni dan Rahayu. Mereka adalah sepasang anak dan ibu. Marni dari kecil sudah ditinggal oleh sosok ayahnya, sehingga ia harus banting tulang untuk hidup bersama ibunya. Ketika dewasa, Marni akhirnya menjadi wanita yang kaya raya berkat menjadi rentenir. Ia memiliki seorang anak bernama Rahayu. Rahayu tumbuh menjadi gadis yang baik, cerdas, dan taat beragama. Berbeda dengan anaknya, Marni percaya bahwa ia selama ini dibantu oleh Mbah Ibu Bumi Bapa Kuasa. Konflik yang dituangkan dalam buku ini juga cukup relateable, seperti ketidakadilan hukum yang membuat Rahayu berakhir mendekam di penjara, adanya Kolusi Korupsi Nepotisme (KKN) semasa pemerintahan saat itu, yang membuat Marni harus mengeluarkan uang lebih banyak karena ‘diperas’ oleh pegawai partai, polisi, ketua RT, dan lain sebagainya.

4. Filosofi Teras

5 Buku Keren Karya Penulis Indonesia
Gambar: gramedia.com

Kalau sebelumnya saya sudah merekomendasikan buku fiksi, maka kali ini saya akan merekomendasikan salah satu buku non-fiksi yang oke banget. Yup, mungkin buku karya Henry Manampiring ini nggak asing bagi kalian. Buku ini juga udah berkali-kali jadi best-seller di berbagai toko buku di Indonesia. Melalui buku ini, penulis membagikan pengetahuannya mengenai filsafat stoa atau stosisme. Wah, filsafat, susah dong? Tenang! Nggak, kok, justru buku ini sangat enak dibaca meskipun pikiran kalian lagi ruwet. Karena filsafat teras sendiri memberikan solusi terhadap permasalahan-permasalahan hidup kita, dengan menawarkan bagaimana cara menumbuhkan mental kuat dan tetap bersikap tenang.

   Selain membahas mengenai filosofi teras, dalam buku ini juga dibahas bagaimana cara kita memperoleh ketentraman hidup, apa saja hal yang bisa kita kendalikan dan mana yang tidak, dan banyak sekali hal berguna yang dibahas dalam buku ini untuk memperkuat mental dan kesehatan jiwa kita. Worth to read banget, deh, pokoknya!

5. Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

5 Buku Keren Karya Penulis Indonesia
Gambar: goodreads.com

Buku terakhir dari 5 Buku Keren Karya Penulis Indonesia yang satu ini adalah buku yang ditulis oleh penulis kondang tanah air, Tere Liye. Namanya mungkin sudah tak asing lagi, mengingat jika datang ke Gramedia, buku-buku karya beliau tertata rapi di barisan best-seller. Buku ini menceritakan tentang seorang anak perempuan bernama Tania yang hidup serba sulit bersama keluarganya. Kemudian, ia bertemu dengan seseorang yang baik hati bak malaikat bernama Danar. Tidak sekadar sampai di situ, Danar terus menolong Tania dan keluarganya sehingga Tania merasa kesulitannya sedikit berkurang.

Suatu saat, ibu Tania meninggal dunia dan akhirnya Danar pun mengajak Tania dan adiknya untuk tinggal bersama. Mereka hidup dengan sangat bahagia, namun, ketika melihat Danar dengan kekasihnya, ia merasa ada yang aneh. Dan saat itulah Tania menyadari bahwa ia menyukai Danar. Tania memendam perasaannya karena ia menyadari bahwa usianya terpaut jauh dan ia lebih cocok menjadi sosok adik bagi Danar.

Nah, kurang lebihnya buku Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin bercerita tentang hal tersebut. Ada romance-romancenya juga, sih, jadi untuk kalian yang suka baca novel romance, ini cocok untuk kalian!

Share this :

Leave a Comment