PAHLAWAN INDONESIA WANITA YANG BERASAL DARI ACEH

PAHLAWAN INDONESIA WANITA YANG BERASAL DARI ACEH

Beberapa pahlawan Indonesia berasal dari Aceh. Bahkan banyak diantaranya berasal dari kaum wanita. Pada masa penjajahan, keberanian dan kesatriaan wanita Aceh dikenal melebihi segala wanita yang lain.

Dari pengalaman yang dimiliki oleh panglima-panglima perang Belanda yang telah melakukan peperangan di segala penjuru dan pojok Kepulauan Indonesia, bahwa tidak ada bangsa yang lebih pemberani perang serta fanatik, dibandingkan dengan bangsa Aceh, dan kaum wanita Aceh yang melebihi kaum wanita bangsa lainnya, dalam keberanian dan tidak gentar mati. Bahkan, mereka pun melampaui kaum laki-laki Aceh yang sudah dikenal bukanlah laki-laki lemah dalam mempertahankan cita-cita bangsa dan agama mereka”. (Kumalasari, 2016, h.2).

 

Itu merupakan pernyataan dari H.C. Zentgraaff salah seorang prajurit sekaligus wartawan Belanda. Ia mengakui kelebihan wanita Aceh yang turut berjuang pada masa tersebut.

 

Aceh merupakan daerah yang kaya akan rempahnya. Oleh karena itu Belanda berusaha menguasai Aceh untuk kepentingan ekonomi. VOC berusaha memonopoli Aceh yang menimbulkan banyak peperangan.

 

Sejarah panjang yang dimiliki daerah yang terletak di ujung pulau Sumatra ini membuktikan bahwa peperangan di Aceh sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajahan tidak hanya dilakukan oleh kaum laki-laki, tetapi juga perempuan memiliki andil yang sangat besar dalam proses pembebasan negri ini dari agresi asing.

Salah satu pahlawan wanita dari Aceh yang namanya sudah banyak dikenal adalah Cut Nyak Dhien. Sebelum berjuang bersama suaminya yang kedua (Teuku Umar) ia sudah angkat senjata dan berjuang.

 

Ia turun ke Medan perang sambil menggendong anaknya yang masih kecil. Di samping itu, ia mengasuh dan menyusui anaknya, bersamaan dengan pedang terhunus, rencong Aceh di luar sarung pinggang, ia menghadapi Belanda laksana singa betina. Peristiwa itu terjadi pasca suami pertamanya  meninggal. 

 

Namanya semakin dikenal oleh masyarakat Aceh ketika ia menikah lagi dan berjuang bersama suaminya yang baru, yaitu Teuku Umar. Ia pun telah mendapat gelar “Pahlawan Nasional” dari surat keputusan presiden pada tahun 1964.

 

Cut Nyak Dhien adalah satu srikandi Aceh yang berjuang di medan perang. Masih ada srikandi Aceh lain yang turut memperjuangkan kemerdekaan negara ini. Siapa sajakah itu?

1. Cut Nyak Meutia

Pahlawan Indonesia
Sumber Gambar: id.wikipedia.org

Cut Nyak Meutia adalah sosok wanita pejuang yang tangguh dan berani. Ia adalah seorang pemimpin gerilyawan Aceh yang berjuang melawan pasukan Belanda.

 

Selama berjuang membela tanah airnya, ia dikenal sebagai karakter setia terhadap negara dan tak pernah tunduk kepada pemerintah Belanda. 

 

Seperti yang diungkapkan oleh Said (dalam Erviani,2017): 

 

“Dialah putri yang murni dari bangsanya. Jiwa raganya melekat terus kepada para pejuang yang tak mau tunduk dan tinggal di gunung. Mereka hanya tunduk mengabdi pada jalan Fisabilillah, dimana ayah bundanya aktif serta”.

 

Selama hidupnya ia terus membela negerinya tanpa pernah sekalipun tunduk dan takut terhadap pemerintah Belanda. 

 

Baca juga : PAHLAWAN NASIONAL WANITA INDONESIA YANG WAJIB KAMU KETAHUI

2. Pocut Baren

Pahlawan Indonesia
Sumber Gambar: Tirto.id

Pocut Baren adalah  pahlawan wanita dan ulama dari Aceh yang gigih melawan Belanda. Ia merupakan seorang panglima perang dan juga sebagai uleebalang daerah Gome. (Syafaah, 2017)

 

Pocut Baren memiliki pengikut setia yang banyak dalam membantunya melakukan pertempuran melawan Belanda. Berdasarkan cerita masyarakat Aceh, ia turut  bergerilya bersama-sama pasukan Cut Nyak Dhien.

 

Selanjutnya, setelah Cut Nyak Dhien tertangkap, Pocut Boren tetap meneruskan perjuangan dan menggantikan suaminya yang meninggal dalam peperangan sebagai seorang panglima perang. 

3. Keumalahayati

Pahlawan Indonesia
Sumber Gambar: Replubika.co.id

Keumalahayati adalah seorang pahlawan negara yang memiliki  gelar grande dame atau wanita yang agung. Ia merupakan seorang putri dari laksamana Mahmud Syah. Ia bersekolah di sebuah pendidikan  militer.

 

Keumalahayati memulai aktivitas kemiliterannya sebagai seorang prajurit. Kemudian ia diangkat sebagai laksamana. Setelah itu, ia pun dipilih sebagai laksamana atas kecerdasan dan kemampuannya pada bidang tersebut.

 

Selanjutnya, karirnya pun terus meningkat. jabatan. Karir terakhirnya, ia menjabat sebagai seorang panglima armada Selat Malaka dan panglima pasukan khusus Inong Balee (laskar/ pasukan perempuan di tanah Rencong). 

 

Keumalahayati terlibat dalam perang-perang melawan Portugis dan Belanda. Bahkan, ia pernah membunuh pemimpin pedagang asal Belanda, yaitu Cornelis de Houtman. 

 

Prestasi yang tak kalah luar biasa adalah ia merekrut 2000 kader pasukan perang khusus yang berasal dari kaum janda. Atas segala prestasi dan perjuangannya, gelar yang ia dapat sebagai wanita agung adalah tidak berlebihan, dan dia pantas mendapatkannya. 

 

Itulah para pejuang wanita dari Aceh. Sebenarnya, masih banyak lagi pahlawan Indonesia yang berasal dari Aceh. Semoga kisah pahlawan-pahlawan wanita tersebut dapat menginspirasi kita semua untuk tetap mencintai dan berjuang mengharumkan bangsa ini. Baca juga 7 Fakta tentang Malahayati

REFERENSI

 

Erviani, Fitria. (2017). POTRET PAHLAWAN DALAM KARYA TAPESTRI. (Skripsi, Universitas Negeri Padang, 2017). Diakses dari ejournal.unp.ac.id

 

Kumalasari, Rani. (2016). PEREMPUAN ACEH DALAM POLITIK: KAJIAN KEGIGIHAN PERJUANGAN CUT NYAK DHIEN DALAM MELAWAN  PENJAJAHAN BELANDA. Jurnal Agama dan Sosial Humaniora, 4 (1

 

Syafaah, Aah. (2017). PERAN TOKOH WANITA PADA MASA KOLONIALISME. Jurnal Tamaddun: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam. 5 (2)

Leave a Reply