Mengenal Indonesia

Asta Kosala Kosali dan Asta Bumi

Uniknya Asta Kosala Kosali dan Asta Bumi, Arsitektur Rumah Bali!

Share this :

Asta kosala kosali dan asta bumi merupakan salah satu pedoman umat Hindu Bali dalam membangun rumah dan peribadatan.

Sebagaimana kita tau, rumah adat Bali memang memiliki desain arsitektur khusus. Bangunannya memiliki struktur, fungsi, dan penggunaan ornamen turun-temurun. Pakem yang selalu digunakan masyarakat Bali sebagai konsep tata bangunan adalah asta kosala kosali dan asta bumi. Banyak keunikan dan hal menarik yang tersirat dari asta kosala kosali dan asta bumi.

Mengutip Jurnal Maha Widya Duta bertajuk ‘Arsitektur Bali Berkonsep Asta Kosala Kosali dan Asta Bumi sebagai Daya Tarik Wisata’, asta kosala kosali adalah fengshui-nya Bali. Dalam hal ini asta kosala kosali berisi tentang cara, tata letak, dan tata bangunan dalam membangun rumah atau peribadatan di Bali.

Pembangunan tempat diatas harus dilandasi dengan filosofis, etis, dan ritual serta memperhatikan konsep perwujudan, pemilihan lahan, hari baik mendirikan suatu bangunan, dan pelaksanaan yad.

Secara terpisah, asta kosala kosali adalah aturan tentang bentuk niyasa (simbol) pelinggih. Simbol ini meliputi ukuran panjang, lebar, tinggi, pepalih (tingkatan), dan hiasan.

Sementara asta bumi diartikan sebagai perantara keselarasan kehidupan manusia dan alam. Asta bumi berisi tentang aturan luas bangunan pura atau lainnya.

Asta Kosala Kosali dan Asta Bumi
sumber : gramedia.com

Serba Serbi Arsitektur Rumah Bali: Asta Kosala Kosali dan Asta Bumi 

Sejarah Asta Kosala Kosali dan Asta Bumi

Berkaitan dengan sejarah munculnya asta kosala kosali dan asta bumi, terdapat beberapa versi.

1. Muncul pada Abad 9: Berkaitan Prasasti Bebetin

Pada abad ke-9, asta kosala kosali telah dikenal oleh masyarakat Indonesia. Hal ini dibuktikan pada data Prasasti Bebetin Berangka 818 Saka (896 M). Kala itu, Bali telah dikenal sebagai ahli arsitektur tradisional Bali. Arsitek disana dikenal dengan sebutan undagi.

2. Dikaitkan pada Zaman Majapahit

Versi kedua, dalam jurnal Waha Widya Duta, Ida Pandita Dukuh Samyaga menuturkan perkembangan arsitektur bangunan Bali tak lepas dari peran tokoh Bali Aga zaman Majapahit.

Pada abad ke-11 tepatnya zaman pemerintahan Raja Anak Wungsu, dua tokoh bernama Kebo Iwa dan Mpu Kuturan mewarisi landasan pembangunan arsitektur Bali.

Penataan Lahan dan Bangunan

Dalam penataan lahan dan bangunan di Bali, memang tidak bisa sembarangan. Banyak aturan yang harus diperhatikan baik-baik demi kelancaran pembangunan. Berikut ini hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penataan lahan dan bangunan.

1. Posisi Lahan Tidak Bisa Sembarangan 

Membangun rumah di Bali tidak bisa di sembarang tempat loh. Ada beberapa pantangan yang harus dihindari oleh masyarakat Bali saat mendirikan sebuah bangunan. Salah satunya posisi tanah. Berikut ini tanah yang perlu dihindari sebagai lokasi pembangunan.

a. Karang karubuhan (jalan)

b. Karang sandang lawe (pintu keluar berpapasan dengan persimpangan jalan)

c. Karang sulangapi (karang yang dilingkari oleh lorong/jalan)

d. Karang buta kabanda (karang yang diapit lorong/jalan)

e. Karang teledu nginyah (karang tumbak tukad)

f. Karang gerah (karang di hulu kahyangan)

g. Karang tenget

h. Karang buta salah wetu

i. Karang boros wong (dua pintu masuk berdampingan sama tinggi)

j. Karang suduk angga (karang manyeleking)

k. Tanah berwarna hitam, legam, berbau busuk.

Tanah diatas bisa saja digunakan untuk didirikan bangunan. Namun, perlu dilakukan upacara keagamaan tersendiri. Nantinya dibuatkan palinggih yang dilengkapi dengan upacara pamarisuda.

2. Posisi Lahan yang Baik untuk Bangunan

Posisi tanah yang bagus untuk didirikan bangunan adalah tanah dengan posisi miring (lebih rendah) ke timur (sebelum direklamasi). Namun, posisi bangunan tetangga dan tanah sisi utara harus lebih tinggi.

Jika di pinggir jalan, posisi tanah alangkah baiknya di peluk jalan. Ditambah lagi terdapat air di sebelah selatan. Perlu dicatat, air bukan dari sungai yang mengalir deras melainkan aliran sedang. Posisi sungai pun harus memeluk tanah.

Selain letak tanah, tekstur tanah juga perlu diperhatikan. Tanah yang berwarna kemerahan dan tidak berbau sangat cocok untuk didirikan bangunan. Gimana cara ngujinya?

Sobat MI tinggal ambil tanah dan gengam lalu buang. Jika tanah terurai maka tekstur tanah tersebut bagus. Cara lain, bisa dengan melubangi tanah sedalam 40 cm persegi dan ditimbun dengan tanah galian tadi. Jika lubang penuh atau tidak ada sisa tanah timbunan maka tanah tersebut bagus.

Nah sebaliknya, jika lubang tidak bisa tertutup rapat oleh tanah galian tadi, bisa dikatakan tanah tersebut tidak baik untuk didirikan bangunan. Konon tanah dengan ciri-ciri tersebut tergolong angker.

Menurut asta kosala kosali, pilihlah tanah yang berada di utara jalan karena lebih mudah melakukan penataan bangunan.

Baca Juga : Arsitektur Rumah Bumi Pasundan, Rumah Adat Badak Heuay!

3. Pengukuran Bangunan Menggunakan Anatomi Tubuh 

Jika umumnya masyarakat mengukur lahan bangunan menggunakan alat meteran, tidak dengan masyarakat tradisional Bali. Mereka menggunakan anatomi tubuhnya sebagai alat ukur. Ini dia cara pengukuran ala masyarakat Bali.

a. Acengkang (Alengkat)

Pengukuran satu ini menggunakan ujung jari telunjuk dan ibu jari tangan dengan kedua jari direntangkan.

b. Agamel

Agamel, pengukuran tradisional yang dilakukan dengan cara mengepalkan tangan.

c. Aguli

Konsep pengukuran aguli diukur dari ruas tengah jari telunjuk.

d. Akacing

Akacing adalah pengukuran yang dilakukan dari pangkal hingga ujung jari kelingking tangan kanan.

e. Alek

Jika pengukuran akacing dari ujung ibu jari hingga ujung kelingking, alek hanya sampai ujung jari tengah.

f. Amusti

Amusti dilakukan dengan pengukuran dari ujung ibu jari hingga pangkal telapak tangan yang dikepalkan.

g. Atapak Batis

Pengukuran ini sering ditemui juga di masyarakat umum, terutama Jawa. Atapak batis diukur mulai sepanjang telapak kaki.

h. Atapak Batis Ngandang

Pengukuran atapak batis nyandang masih sama dengan atapak batis yang menggunakan perantara telapak kaki. Perbedaannya, atapak batis nyandang diukur selebar telapak kaki.

i. Atengen Depa Agung

Konsep pengukuran atengen depa agung, dilakukan dari pangkal lengan sampai ujung jari tangan yang direntangkan.

j. Atengen Depa Alit

Perbedaan pengukuran ini dengan atengen depa agung adalah di posisi jari tangan. Pada atengen depa alit, ujung tangan dikepalkan.

k. Auseran

Auseran diukur dari pangkal ujung jari telunjuk yang ditempatkan pada suatu permukaan.

l. Duang Jeriji

Pengukuran duang jeriji dilakukan dengan lingkar dua jari yaitu jari telunjuk dan jari tengah yang dirapatkan.

m. Petang Jeriji

Kalau pengukuran satu ini diukur dari lebar empat jari yang dirapatkan. Jari yang dimaksud adalah telunjuk, jari tengah, jari manis, dan kelingking.

n. Sahasta

Pengukuran yang dilakukan dari siku sampai pangkal telapak tangan yang dikepal.

0. Atampak Lima

Konsep pengukuran yang terakhir atampak lima. Atampak lima diukur mulai selebar telapak tangan yang dibuka dengan jari rapat.

4. Bahan Bangunan yang Digunakan

Pemilihan bahan bangunan rumah dan sejenisnya harus selektif. Jika asal memilih bahan bangunan, umat Hindu percaya akan terjadi musibah pada keluarga penghuni bangunan tersebut. Berikut ini tantangan terkait bahan bangunan yang tidak boleh digunakan

a. Bramasesa (tidak boleh memakai bahan material sisa kebakaran)

b. Nguringwapke (memakai bekas bahan bangunan yang roboh tanpa sebab yang jelas)

c. Poman pamali (menggunakan kayu yang berada di jurang)

d. Anepiluwah (menggunakan kayu yang berada di tepi sungai)

e. Sesawadung (memakai kayu sisa dari tebangan terdahulu)

f. Candragni (memakai kayu yang berada di tempat ibadah keluarga)

g. Bhutagraha (kayu yang diambil dari kuburan)

h. Pamali wates (mengambil kayu dari pembatas pekarangan)

i. Asurigrha (kayu yang diambil dari tepi danau)

j. Bhutangandang (kayu yang diambil dari pohon yang melintang di jalan)

k. Ngayut dana (pohon yang diambil dari aliran sungai)

l. Sinar begelap (kayu yang diambil dari pohon yang tumbang akibat sambaran petir)

Pembagian Ruang Bangunan

Ternyata, ruangan rumah di Bali tidak dijadikan dalam satu bangunan melainkan terpisah. Hal ini ditujukan untuk memberikan fungsi tertentu terhadap masing-masing ruangan.

Berikut ini bagian-bagian yang ada di dalam rumah Bali.

1. Angkul-angkul

Angkul disini fungsinya seperti Candi Bentar pada Pura, yaitu sebagai gapura jalan masuk.

2. Aling-aling

Aling-aling berfungsi sebagai pengalih jalan masuk. Tujuannya agar jalan masuk tidak lurus ke dalam tapi menyamping. Hal ini ditujukan supaya pandangan orang diluar (angkul) tidak langsung tertuju ke dalam ruangan.

3. Umah Meten

Ruangan ini biasanya ditujukan untuk kepala keluarga.

Baca Juga: Elemen Rumoh Aceh dan Keunikannya!

4. Bale Sakepat

Bale sakepat digunakan sebagai tempat istirahat anggota keluarga yang masih kecil.

5. Bale Tiang

Nah, untuk tamu biasanya akan diarahkan ke ruangan bale tiang. 

6. Pamerajan

Tempat ini digunakan sebagai tempat upacara. Setiap keluarga pasti memiliki pamerajan. Biasanya diposisikan di sebelah timur laut pada sembilan petak pola ruang.

7. Bale Dangin

Bale dangin lebih bersifat terbuka dan digunakan untuk melakukan berbagai aktivitas seperti membuat kerajinan rajut dan sebagainya.

8. Paon

Paon sama halnya dengan dapur. Tempat ini digunakan untuk kegiatan memasak.

9. Lumbung

Hasil panen keluarga akan disimpan di lumbung. Hasil panen tersebut meliputi padi dan aneka hasil kebun.

Itu dia serba serbi asta kosala kosali dan asta bumi yang perlu sobat MI tau. Lestarikan selalu budaya yang ada di Indonesia ya!

Jangan lupa untuk terus membaca postingan kita ya sobat MI. Caranya gampang kok dengan klik sini. Rasakan manfaat, keasikan, dan keseruan mengenal Indonesia melalui postingan di website dan akun sosial media Mengenal Indonesia.

Referensi

Hariski M H S. 2016. Asta Bumi dalam Perspektif Sejarah (Studi Kasus Kota di Kecamatan Cakranegara Kota Mataram Provinsi Nusa Tenggara Barat. J Paedagoria 13(1): 64-79

Suryawan, IG A J. 2019. Arsitektur Bali Berkonsepkan Asta Kosala Kosali dan Asta Bumi sebagai Daya Tarik Wisata. J Maha Widya Duta 3(1): 35-45

 

Share this :

Leave a Comment