Mengenal Indonesia

Ekspresi Melalui Tulisan

Batam Kota Black Market, Benarkah?

Sumber foto : pesona-batam

        Kalau mendengar nama “Batam” pasti yang terbesit dari pikiran teman-teman adalah harga barang yang murah, terutama barang jenis elektronik. Opini ini terlintas karena adanya istilah “Black Market” yang melekat jika mendengar penyebutan kata Batam sendiri. Gelar tak berwujud tersebut menjadi salah satu ciri khas Batam sebagai salah satu daerah Free Trade Zone (FTZ). Padahal, ada tiga daerah lain di Indonesia yang menjadi kawasan FTZ, yaitu Sabang (Aceh), Bintan (Kepulauan Riau), dan Karimun (Kepulauan Riau).

        Dilansir dari Tokopedia, Black market atau pasar gelap adalah kegiatan ekonomi yang tidak sah atau ilegal.  Biasanya pasar gelap menjual barang-barang yang dilarang oleh ketentuan perundang-undangan, seperti obat-obatan terlarang, barang elektronik hasil selundupan untuk menghindari bea dan cukai, barang hasil curian, senjata api tanpa izin yang jelas, dan lain-lain. Barang yang dijual di pasar gelap biasanya relatif lebih murah karena pembeli tidak perlu membayar biaya lain seperti dokumen,  Pajak Pertambahan Nilai (PPN), dan biaya tambahan lainnya. Selain itu, karena gengsi yang tinggi konsumen jadi rela untuk menanggung segala risiko akibat membeli barang-barang dari pasar gelap.

        Sebenarnya tidak semua barang yang dijual di Batam adalah produk black market dan black market tidak melulu ada di Batam. Barang-barang yang dijual di Batam terlampau murah karena Batam merupakan daerah FTZ di mana dalam ketentuan undang-undang perpajakan, barang-barang tersebut tidak dikenai PPN. Oleh karena itu, apabila di luar daerah FTZ didapati barang dengan harga yang lebih mahal, hal ini disebabkan oleh akumulasi dari harga barang ditambah dengan tagihan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10% dari harga barang.

        Jadi bagaimana? Tertarik belanja di Batam?

Sumber : https://kamus.tokopedia.com/p/pasar-gelap/