UPAYA BELANDA MENANGANI BANJIR DI BATAVIA

UPAYA BELANDA MENANGANI BANJIR DI BATAVIA

Sumber Foto : liputan6

Tiap tahun, ibukota Indonesia selalu dilanda oleh banjir. Banjir bagaikan momok yang selalu menghantui Jakarta tiap tahunnya. Di awal tahun ini pun, berita di media cetak maupun elektronik sudah dipenuhi oleh berita banjir di Jakarta. Hal ini tidak lepas dari karakteristik geologi dan geomorfologi wilayah Jakarta yang sejak awal memang berpotensi banjir. Ada 13 sungai di Jakarta yang berpotensi meluap ketika hujan datang dan kondisi tanahnya yang cekung karena hasil sedimentasi turut memberikan pengaruh yang lumayan terhadap fenomena tahunan di Jakarta ini.

Dilansir dari historia.id, banjir yang terjadi di Jakarta sudah berlangsung dalam waktu yang sangat lama, yaitu sejak zaman Kerajaan Tarumanegara, yang mana hal tersebut mendorong Raja Purnawarman untuk membangun bendungan pencegah banjir. Ketika Belanda datang ke Indonesia, banjir juga tak kunjung hilang dari Batavia (re: nama kota Jakarta pada saat itu). Meskipun begitu, Belanda sudah tahu akan kondisi geologis dan geomorfologis Batavia yang rawan banjir yang mirip dengan Belanda yang sebagian wilayahnya berada di bawah garis permukaan laut, dan mulai beradaptasi dengan itu, bahkan mereka juga menangani banjir dengan beberapa cara.

CARA BELANDA ATASI BANJIR DI BATAVIA

         Batavia yang tiap tahunnya dilanda banjir mendorong Belanda untuk turut menangani bahkan mencegah banjir tahunan itu. Salah satu tokoh yang pertama kali mengupayakan pencegahan banjir di Batavia adalah Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen selaku gubernur jenderal VOC yang ke-enam.

BACA JUGA : Sejarah Penamaan Ibu Kota Yang Diambil Alih

         Dilansir dari jurnal berjudul Pembangunan Kanal dan Pertumbuhan Sosial Ekonomi di Batavia Tahun 1918-1933 karya Nirmala Putri Damayanti, penanganan banjir di Batavia mulai dilaksanakan sejak dibuatnya Waterstaat van Batavia di tahun 1854 oleh pemerintah kolonial. Kemudian, di tahun 1918, upaya tersebut semakin berkembang karena dibentuk Departement van Burgerlijke Openbare Werken (BOW) yang bertugas untuk menangani segala hal yang berkaitan dengan masalah air, seperti pemeliharaan sungai dan danau, pembuatan,  pemeliharaan, dan pengelolaan pengairan (bevloeings), dan lain sebagainya.

         Penanganan banjir di Batavia mulai ditangani lebih sistematik lagi ketika dibentuk Gemeente Batavia atau Pemerintahan Kota Batavia di tahun 1911. Penelitian terhadap sungai-sungai di Batavia pun mulai dilakukan. Upaya yang dilakukan oleh Belanda lebih bersifat preventif dan dilakukan secara efektif.

VAN BREEN: TOKOH PENTING BELANDA DALAM PENGENDALIAN BANJIR DI BATAVIA

         Herman Van Breen, seorang ahli tata air dari Batavia. Beliau terpilih di posisinya atas keahliannya di bidangnya, bahkan Van Breen disebut-sebut mampu berpikir jauh melampaui zamannya. Van Breen membuat saluran penampungan akhir di pinggir kota selatan untuk menampung limpahan air yang nantinya limpahan air tersebut dialiri ke laut melalui tepian barat kota.

         Dikutip dari voa.id, saluran pengepul yang dikenal dengan nama Banjir Kanal Barat (BKB) dirasa cukup ampuh menangani banjir saat itu sehingga dapat mengurangi genangan air di kota. BKB yang dibangun pada tahun 1922 itu membentang dari Pintu Air Manggarai sampai Kawasan Muara Angke. Mengenai pintu air Manggarai, Van Breen berpendapat bahwa Manggarai yang merupakan batas selatan kota saat itu relatif bebas banjir sehingga dapat mempermudah pengendalian aliran air saat musim hujan datang.

         Pintu Air Manggarai juga dapat berfungsi untuk mengatur debit air Sungai Ciliwung Lama, Kali Krukut Lama, Karet, dan Kali Cideng Bawah. BKB juga mengendalikan banjir dari Menteng dan Weltevreden (kawasan sekitar Lapangan Banteng). Karena keberhasilan Van Breen itulah, jalan di tepian banjir kanal itu menggunakan namanya sebagai nama jalan yaitu Van Breen Weg yang sekarang bernama Jalan Latuharhari.

BACA JUGA : PERUSAHAAN-PERUSAHAAN BESAR ASLI INDONESIA

BERHENTINYA PROYEK PENGENDALIAN BANJIR

         Upaya pengendalian banjir di Batavia yang dimulai di tahun 1913-1930 di bawah arahan Van Breen menunjukkan hasil yang lumayan memuaskan namun sayang, hal tersebut tidak berlangsung lama. Sebab, semakin banyaknya penduduk yang datang ke Batavia dan Pemerintah Belanda yang saat itu sudah puas dengan kanal sehingga tidak meneruskan rencana Van Breen selanjutnya. Bahkan pemerintah saat itu terkadang terlalu mengagungkan kanal dan terlalu yakin bahwa Batavia tidak akan dilanda banjir kembali, yang mana menurut Van Breen hal ini merupakan titik kesalahan pemerintah saat itu.

         Dana yang terbatas juga menjadi faktor penting mengapa proyek pengendalian banjir ini akhirnya tidak dilanjutkan kembali. Van Breen masih mengamini bahwa ada upaya lain untuk mengendalikan banjir di Batavia selain dengan pembuatan kanal, seperti memelihara resapan air, menghentikan penggundulan hutan dan melakukan reboisasi, dan lain sebagainya. Selain itu juga dikarenakan Belanda akhirnya kalah dari Jepang dan harus angkat kaki dari Indonesia, proyek-proyek yang sudah dicanangkan akhirnya terbengkalai. Pemerintah Indonesia saat itu lebih fokus untuk menyiapkan kemerdekaan sehingga banjir di Jakarta hanya ditangani dengan cara “apa adanya”.

 Bibliography

Seniwati, Damayanti, Nirmala Putri. Pembangunan Kanal dan Pertumbuhan Sosial Ekonomi di Batavia Tahun 1918-1933. Walasuji. Volume 11, Nomor 1, Juni 2020

Andri Setiawan. 2021. “Bagaimana Belanda Mengurus Banjir di Batavia?”. https://historia.id/urban/articles/bagaimana-belanda-mengurus-banjir-di-batavia-vJyKa

Voi.id. 2021. “Herman van Breen Membangun Banjir Kanal Barat untuk Kendalikan Banjir di Batavia”. https://voi.id/memori/34743/herman-van-breen-membangun-banjir-kanal-barat-untuk-kendalikan-air-di-batavia

Leave a Reply