Mengenal Indonesia

sejarah imlek di Indonesia

Sejarah Imlek di Indonesia: Benarkah Perayaan Imlek Sempat Dilarang?

Share this :

Tahun baru Imlek merupakan hari besar agama Konghucu. Perayaan tahun baru Imlek jatuh pada tanggal 22 Januari 2023. Beberapa klenteng dan masyarakat di Indonesia telah bersiap-siap untuk merayakannya. Nah, ngomongin soal Imlek, gimana sih sejarah Imlek di Indonesia?

Benarkah pada era Soeharto, segala kegiatan yang bersinggungan dengan kebudayaan Tionghoa dibekukan? Ini dia sederet fakta menarik tentang sejarah Imlek di Indonesia.

sejarah imlek di indonesia
sumber : freepik/wirestock

Sejarah Munculnya Imlek

Sebelum ngomongin sejarah Imlek di Indonesia, gak afdol rasanya kalau belum tau sejarah Imlek dari negara asalnya. Nah, berikut ini sejarah Imlek mulai era Dinasti Shang hingga kemunculannya di Indonesia.

Sejarah Imlek Era Dinasti ke Dinasti

Imlek diyakini telah ada sejak masa Dinasti Shang 1600-1046 SM (Sebelum Masehi) atau sekitar 3500 tahun lalu.

Merujuk jurnal Filsafat bertajuk “Imlek sebagai Permohonan dan Syukur”, awalnya Imlek merupakan perayaan yang dilakukan petani di China untuk menyambut musim semi.

Bagi petani China, musim semi adalah pertanda adanya kehidupan baru. Kok bisa? Pada musim semi, tanaman mulai memunculkan tunas baru dan mulai tumbuhnya bakal bunga.

Fenomena diatas membuat masyarakat China terpukau dan berinisiatif membuat perayaan sederhana. Seiring berjalannya waktu, perayaan ini tetap dilestarikan dan menjadi ritual setiap tahunnya. 

Pada masa Dinasti Jin dan Wen, perayaan tahun baru Imlek bergeser menjadi acara rakyat. Saat itu masyarakat mengadakan jamuan dan kunjungan ke sanak keluarga.

Kemudian, di era Dinasti Tang, Song, dan Qing, perayaan Imlek menjadi sebuah festival. Festival disini meliputi atraksi budaya Barongsai hingga pesta petasan.

Merujuk CXO Media, sejarah Imlek juga turut diwarnai dengan legenda Nian. Dalam bahasa Mandarin, Nian memiliki arti “tahun”.

Dalam mitologi China, Nian justru dipercaya sebagai sosok monster yang tinggal di dasar laut. Nian memiliki wujud berbadan singa dengan kepala unicorn lengkap bersama tanduk di tengahnya.

Konon setiap tahun di musim semi, Nian selalu muncul dan dengan ganasnya melenyapkan hewan ternak, hasil bumi, dan manusia.

Setelah ditelusuri, Nian memiliki ketakutan terhadap suara bising dan warna merah. Oleh sebab itulah, perayaan Imlek identik dengan warna merah. Barongsai yang diiringi musik dipercaya bisa mengusir Nian.

Munculnya Imlek di Indonesia

Pakar Ketimuran, Denys Lombard menyatakan bahwa sejarah Imlek di Indonesia berawal dari kedatangan orang China ke Asia Tenggara. Peristiwa ini terjadi sekitar abad ke-3 Masehi. Kala itu, orang China bermigrasi untuk keperluan dagang hingga akhirnya bermuara di Indonesia.

Kedatangan China membawa perubahan perekomian dan budaya di Indonesia. Salah satu budaya yang dibawa China adalah budaya perayaan Imlek.

Perayaan Imlek di Masa Pemerintahan

Siapa sangka perayaan Imlek di Indonesia penuh dengan lika-liku. Terlebih di era Presiden Soeharto. Berikut ini cerita singkat aturan perayaan Imlek di Indonesia dari masa ke masa.

Imlek di Era Soekarno: Ditetapkan Hari Raya Umat Tionghoa

Setahun setelah merdeka, Presiden Soekarno mengeluarkan Penetapan Pemerintah tentang hari raya umat beragama Nomor 2/OEM-1946. Salah satu pasalnya menyoal tentang hari raya orang Tionghoa.

4 perayaan yang masuk dalam penetapan hari raya orang Tionghoa adalah tahun baru Imlek, hari wafatnya Konghucu pada tanggal 18 bulan 2 Imlek, Ceng Beng, dan hari lahirnya Konghucu pada tanggal 27 bulan 2 Imlek.

Pada masa Pemerintahan Soekarno, orang Tionghoa bisa berekspresi dengan bebas. Orang Tionghoa bisa berbahasa dan menyanyikan lagu Mandarin, memeluk agama Konghucu, memiliki surat kabar berbahasa Mandarin, dan menyematkan nama China di keturunannya.

Selain itu, sekolah, toko, restoran, dan bengkel bisa memasang plang bertuliskan Mandarin.

Perayaan Imlek di Era Soeharto: Dilarang

Selama tahun 1967-1998, perayaan Imlek di Indonesia tidak dapat dilakukan secara terbuka. Tepat 6 Desember 1967, Presiden Soeharto mengeluarkan Instruksi Presiden (INPRES) Nomor 14/1967 tentang pembatasan agama, kepercayaan, dan adat istiadat China.

Pada instruksi tersebut dijelaskan bahwa segala kegiatan berunsur Tionghoa tidak boleh dilakukan secara terbuka seperti Cap Go Meh, Ceng Beng, sembhayang, dan perayaan Imlek. Perayaan dan sejenisnya hanya boleh dirayakan di lingkungan rumah dan ruangan tertutup.

Aturan ini berlaku setelah Presiden Soeharto melarang partai dan ajaran Komunis. Alhasil, aturan tersebut berimbas pada pelarangan kebudayaan Tionghoa di Indonesia.

Bahasa Mandarin, Hokkien, Hakka dilarang keras beredar saat itu dan agama Konghucu tidak diakui. Tak hanya itu, hubungan diplomatik dengan China pun dibekukan.

Perayaan Imlek di Era Gus Dur: Umat Konghucu diberi Kebebasan

Merujuk artikel bertajuk “Kebijakan Politik Gus Dur terhadap China Tionghoa di Indonesia”, Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tidak sependapat dengan INPRES Nomor 14/1967.

Saat berkuasa, Presiden Gus Dur mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 6/2000 tentang pencabutan INPRES Nomor 14/1967.

Pada keputusan tersebut, dijelaskan bahwa masyarakat Tionghoa diberi kebebasan untuk menganut agama, kepercayaan, adat istiadat, dan upacara keagamaan seperti Imlek dan Cap Go Meh. Keputusan ini diumumkan secara terbuka pada 17 Januari 2000.

Setahun kemudian, Gus Dur mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19/2001 tentang penetapan Imlek sebagai hari libur fakultatif tertanggal 9 April 2001.

Sebagai informasi, hari libur fakultatif adalah hari libur yang tidak ditentukan pemerintah pusat secara langsung melainkan dari instansi/pemerintah daerah/pihak tertentu.

Imlek di Era Megawati: Jadi Hari Nasional

Perayaan Imlek sebagai hari libur nasional ditindaklanjuti pada era Presiden Megawati Soekarnoputri tepatnya tahun 2002. Sementara untuk implementasinya dimulai pada tahun 2003.

Saat itu, masyarakat Tionghoa masih dalam masa transisi menjalani perayaan Imlek di ruang publik tanpa ada tekanan dari berbagai pihak. Seperti yang kita tau bahwa kebudayaan Tionghoa di Indonesia telah dibekukan selama lebih dari 30 tahun.

Era SBY: Pemberian Hak Kewarganegaraan Keturunan Tionghoa

Masih merujuk jurnal Filsafat, pada tahun 2006, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan peraturan Nomor 12/2006 tentang Kewarganegaraan dan peraturan Nomor 26/2006 tentang Sensus Penduduk.

Kedua peraturan diatas memberikan peneguhan kepada keturunan Tionghoa untuk mendapatkan hak kewarganegaraannya sebagai warga negara Indonesia.

Keputusan ini tentu memberikan dampak positif bagi Tionghoa dan Indonesia. Sebab, kebudayaan Tionghoa mulai dikenal oleh publik dan menjadi kekayaan budaya Indonesia.

Imlek di Zaman Penjajahan Jepang

Ternyata, jauh sebelum Pemerintahan Gus Dur yaitu zaman penjajahan Jepang (1943), Imlek dijadikan sebagai hari libur resmi.

Penetapan diatas tertuang dalam Keputusan Osamu Seirei No 26 tertanggal 1 Agustus 1943.

Tujuan Perayaan Imlek 

Terdapat beberapa hal yang dilakukan masyarakat Tionghoa dalam menyambut Imlek. Dalam buku bertajuk “Kepingan Narasi Tionghoa Indonesia: The Untold Histories (2020)”, salah satu tradisi orang Tionghoa dalam menyambut tahun baru Imlek adalah membersihkan rumah. Tujuannya untuk mempersiapkan diri agar bersih lahir dan batin pada hari tahun baru Imlek.

Selain itu, tradisi yang dilakukan pada bulan ketiga penanggalan Imlek (Sha Gwee) adalah Ceng Beng yang artinya bersih dan terang.

Pada saat Ceng Beng, umat Konghucu tidak hanya membersihkan rumah tetapi juga makam leluhur. Tujuannya sebagai wujud rasa hormat kepada para leluhur.

Biasanya 15 hari pasca perayaan tahun baru Imlek atau Sincia, diadakan Cap Go Meh (Festival Lampion). Cap Go Meh digunakan sebagai penutup rangkaian perayaan Imlek.

Perayaan Imlek dilakukan sebagai wujud ungkapan rasa syukur atas pencapaian yang ada di tahun ini. Tahun baru Imlek melambangkan keharmonisan dalam tata kehidupan manusia.

Baca Juga : Klenteng Tertua di Indonesia: Ada yang Terluas di Asia Tenggara dan Patungnya Masuk MURI?

Sio Imlek 2023: Kelinci Air

Perayaan Imlek di tahun 2023, disambut dengan shio Kelinci Air. Mengutip laman China Highlights, shio Kelinci memiliki arti umur panjang, kedamaian, dan kemakmuran dalam budaya Tiongkok.

Sementara menurut Astrologi Tiongkok, Kelinci digambarkan sebagai makhluk yang lembut, pendiam, anggun, waspada, terampil, baik hati, sabar, dan bertanggung jawab. Namun, terkadang enggan mengungkapkan pikirannya kepada orang lain dan memiliki kecenderungan melarikan diri dari kenyataan. Meski demikian, kelinci selalu setia pada orang-orang di sekitarnya.

Shio Kelinci Air diprediksi sebagai tahun penuh harapan. Tahun Kelinci Air 2023 akan membawa perubahan bagi seluruh shio.

Sekarang udah tau kan gimana sejarah Imlek di Indonesia. Perayaan dan kebudayaan berunsur Tionghoa pernah dilarang di era Soeharto. Namun, semenjak pemerintahan Presiden Gus Dur, orang Tionghoa mulai mendapatkan ruang untuk berekspresi dengan bebas.

Jangan lupa untuk terus membaca postingan kita ya sobat MI. Caranya gampang kok dengan klik ini. Rasakan manfaat, keasikan, dan keseruan mengenal Indonesia melalui postingan di website dan akun sosial media Mengenal Indonesia.

Referensi :

Harsono. 2017. Imlek sebagai Permohonan dan Syukur. J Filsafat 6(1): 58-74

Mustajab, Ali. 2015. Kebijakan Politik Gus Dur terhadap China Tionghoa di Indonesia. J Agama dan Hak Asasi Manusia 5(1): 153-192

 

Share this :

Leave a Comment