Sarjana Dari Hasil Berjualan Gorengan

Sarjana Dari Hasil Berjualan Gorengan

Sumber Foto : feb.umy.ac.id

       Banyak mahasiswa ingin mendapatkan gelar sarjana yang diakhiri dengan wisuda, impian itu tidak hanya dari kalangan atas akan tetapi dari kalangan bawah pun juga memiliki impian yang sama. Saya pernah mendengar dan melihat di stasiun televisi ada seorang mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bernama asnawi yang berasal dari Bangka dapat memperoleh gelar sarjana dari hasil berjualan gorengan. Pada saat wisuda, asnawi menggunakan pakaian toga dengan membawa gerobak jualan gorengan yang memberikan gorengan secara gratis kepada wali mahasiswa, satpam, tukang parkir dll. Dia melakukan seperti itu untuk memenuhi nazarnya, “Saya pernah bernazar dulu, pokoknya kalau saya lulus. Saya akan pakai toga dengan membawa dagangan saya. Saya ingin menunjukan bahwa penjual gorengan juga bisa menyelesaikan kuliah, saya membayar kuliah dan membiayai hidup saya juga pakai ini,” ujarnya pada saat diwawancarai hari Selasa (14/2/2017).


      Mungkin dari kalian memiliki pertanyaan, apakah menjual gorengan mengganggu perkuliahan? dan berapa keuntunganya hasil dari menjual gorengan sampai bisa memenuhi kebutuhannya sehari-hari?. Selama berjualan gorengan, proses perkuliahan asnawi tidak pernah ada yang terganggu. Setiap tugas kuliah yang diberikan, dia pun selalu mengerjakan walaupun pada saat lagi sibuk berdagang. “Tugas tetap dikerjakan, namun kalau harus meninggalkan berjualan. Ya saya tinggalkan,” ujarnya. Untuk mengatur waktu antara berjualan dengan kuliah,  setiap hari senin hingga sabtu asnawi harus bangun jam 04.00 pagi untuk shalat subuh yang kemudian dia berangkat ke pasar untuk membeli bahan-bahan gorengan setelah itu membuat bumbu. Sekitar jam 06.45 pagi, persiapan untuk berdagang sudah disiapkan kemudian dia berangkat kuliah. Setelah asnawi berkuliah hingga pukul 12.30, kemudian dia langsung membuat adonan dan berjualan dengan berkeliling di sekitar kampus hingga jam 18.00. Pada waktu malam dia gunakan dengan maksimal untuk belajar serta mengerjakan tugas. Apabila dia ingin tidur, sebelumnya dia selalu mengecek peralatan untuk berdagang agar melihat apakah besok bisa digunakan untuk berdagang. Asnawi tidak berjualan pada hari minggu, karena pada hari itu dia gunakan untuk beristirahat.


      Sebelum berjualan gorengan, asnawi pernah berjualan pempek dan mie ayam akan tetapi ditengah jalan dia berhenti karena mengalami kerugian terus-menerus. Setelah itu dia berganti berjualan menjadi gorengan, dititik ini asnawi mulai mendapatkan keuntungan yang cukup besar dengan berjualan gorengan mendapatkan rata-rata 300 ribu rupiah ditiap harinya. Dari keuntungan sebesar itulah, asnawi dapat memenuhi kebutuhannya tanpa meminta uang dari orang tuanya. 


    Asnawi pernah merasakan hinaan dan cacian yang diberikan oleh orang-orang sekitarnya, akan tetapi semua itu dibalas dia dengan pembuktian. “Saya pernah dihina, saya ingat sekali perkataan salah satu tetangga saya “kamu keahliannya hanya buat gorengan saja, engga mungkin kamu bisa menyelesaikan pendidikan tinggi.” dan ” waktu itu saya belum tahu. Jadi saya ingin membuktikan pada orang-orang yang meremehkan saya, bahwa saya juga bisa menyelesaikan pendidikan tinggi. Bahkan dulu saat saya masuk SMA juga banyak yang meremehkan saya karena usia saya sudah 19 tahun.” ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca.


          Asnawi yang telah mendapatkan gelar sarjana dengan IPK 3,39, mengaku bahwa setelah lulus sarjana ditingkat S1 dia masih ingin mengejar cita-citanya yang melanjutkan pendidikan hingga jenjang S2. Begitu juga dia ingin menjadi pengusaha, “saat ini saya ingin pulang kampung sambil mencari pekerjaan di samping berjualan gorengan lagi dengan orang tua. Saya juga ingin mengejar beasiswa S2 ke luar negeri. Untuk soal cita-cita profesi, saya  lebih berminat di wirausaha, walau dulu waktu kecil ya cita-citanya jadi presiden.” Ujar harapannya.

  Bagi sobat MI yang memiliki mimpi atau cita-cita yang tinggi, asnawi merupakan salah satu contoh yang bisa kalian pelajari perjuangannya walaupun ditengah jalan ada hambatan yang menghampiri. Akan tetapi kalian jangan berkecil hati, yakin dan perjuangkan serta buktikan kepada mereka orang-orang yang kamu sayangi bahwa kalian bisa meraih mimpi atau cita-cita yang kalian dambakan. 

Leave a Reply