Mengenal Indonesia

papeda makanan khas papua

Mengenal Papeda, Makanan Khas Papua dari Sagu yang Penuh Makna!

Share this :

Makan apaan tuh? Kok macam lem gitu? Emang enak ya?”. Secuil cercahan masyarakat awam yang belum mengenal dan merasakan kelezatan makanan khas Papua, papeda.

Siapa nih, sobat MI yang tau atau sudah mencoba papeda? Atau malah ada yang belum nyobain. Gak papa, kali ini MI akan ngasih tau kalian tentang papeda.

Sebenarnya masyarakat Papua memiliki beragam makanan khas selain papeda yaitu udang selingkuh, kue bagea sagu, sagu lempeng, dan lainnya. Tapi, makanan Indonesia satu ini, papeda, yang cukup membumi dan kental di masyarakat Indonesia.

Tau gak kenapa? karena dibalik julukannya sebagai makanan khas Papua yang legendaris, terdapat banyak filosofi dan nilai didalamnya. Apa aja ya itu, yuk simak ulasannya sobat MI.

Papeda makanan khas Papua
sumber : instagram/Ilhamarch

Kenalan dulu yuk, apa itu papeda?

Papeda adalah makanan khas Papua yang menjadi sumber karbohidrat pengganti nasi dan banyak ditemui di Papua, Maluku, dan beberapa daerah di Sulawesi.

Makanan ini memiliki tekstur kental berwarna putih dengan rasa yang tawar. Bentuknya mirip bubur, tapi teksturnya lebih kental dan lengket.

Makanan khas papua ini berbahan dasar sagu. Sagu merupakan salah satu makanan pokok masyarakat di dataran rendah pesisir Papua.

Tau gak sobat MI, ternyata cara menyantap makanan khas Papua ini unik juga lho. Masyarakat Papua biasanya menyantap papeda dengan menggunakan sumpit atau garpu.

Sumpit atau garpu digenggam menggunakan dua tangan dengan masing-masing tangan memegang satu sumpit.

Hayo, sobat MI tau gak kenapa makan papeda perlu pakai sumpit atau garpu? Ya, karena tekstur makanan khas Papua ini cenderung kental seperti lem sehingga untuk menyantapnya ke piring tidak bisa menggunakan sendok.

Cukup ribet ya sobat MI.

Papeda semakin lezat ketika disajikan dengan menu pendamping satu ini, ikan kuah kuning. Jenis ikan yang digunakan biasanya ikan sejenis kakap. Selain itu, juga bisa disajikan dengan makanan lain seperti sayur ganemo, ikan goreng, dan kuah lalapan.

BACA JUGA : Belajar Masakan Minang dengan Resep Rendang Sapi Terpercaya dan Dijamin Mudah!

Papeda menjadi makanan Papua yang dihormati. Kok bisa?

Sebagai makanan khas Papua, papeda ternyata memiliki nilai dan sangat dihormati oleh masyarakat Papua maupun Maluku nih sobat MI.

Papeda dikenal luas dalam tradisi masyarakat adat di Danau Sentani dan Manokwari. Lantaran terbuat dari sagu, masyarakat Papua sangat menghormatinya. Bagi masyarakat adat Papua, sagu memiliki filosofi yang dalam.

Beberapa suku di Papua, mengenal mitologi sagu dengan kisah penjelmaan manusia. Selaras dengan apa yang dijelaskan Indonesia.go.id, dalam mitologi yang dipercaya masyarakat adat Papua, sagu diyakini sebagai penjelmaan manusia.

Bagi masyarakat Raja Ampat, Papua Barat, sagu dianggap sebagai sesuatu yang begitu istimewa.

Oleh sebab itu, sewaktu memanen sagu, masyarakat Papua kerap mengadakan upacara khusus sebagai rasa syukur dan penghormatan terhadap hasil panen sagu yang melimpah.

Begitu dalam pemaknaan sagu oleh masyarakat Papua, membuat papeda kerap dijadikan sebagai makanan yang wajib dihidangkan saat upacara-upacara sakral seperti:

Pertama, dalam upacara Watani Kame oleh masyarakat Papua. Upacara ini biasanya diselenggarakan sebagai tanda berakhirnya siklus kematian seseorang. Nantinya, bagi relasi yang turut membantu pada upacara Watani Kame akan mendapat papeda.

Kedua, upacara kelahiran anak pertama. Masyarakat di Inanwatan, Papua mewajibkan adanya papeda saat upacara kelahiran anak pertama. Nantinya makanan asal sagu ini disajikan bersama daging babi.

Ketiga, masyarakat di Pulau Seram, Maluku mengenal papeda sebagai Sonar Monne. Suku Nuaulu kerap menyantapnya. Masyarakat Suku Nuaulu dan Suku Huaulu memiliki kepercayaan yang mana perempuan yang sedang dalam masa haid dilarang memasak papeda. Kala itu, mereka menganggap proses merebus sagu menjadi papeda adalah hal yang tabu.

Selain itu, papeda juga memiliki filosofi yang mendalam lho. Tradisi makan papeda dari satu piring yang sama dalam satu keluarga oleh masyarakat Sentani disebut sebagai helai mbai hote mbai, mbai berarti satu.

Sebutan tersebut diartikan sebagai satu filosofi yaitu makan dalam satu keluarga dapat menjadi cerita yang bisa disimpan untuk masa depan anak dan cucu.

Bagi mereka, acara makan keluarga menandai sebagai ikatan kekeluargaan. Ruang diskusi antara orang tua dan anak.

Bisa kebayang kan gimana tali persaudaraan di sana, sobat MI. Hangat sekali pastinya!.

BACA JUGA : Ayam Betutu Khas Gilimanuk, Kuliner Khas Pulau Dewata yang Kaya akan Rempah

Buat papeda sendiri, emang bisa? 

Siapa bilang kalau papeda cuma bisa dibuat sama masyarakat Papua dan Maluku. Sobat MI juga bisa kok, bereksperimen membuatnya sendiri di rumah. Nih, MI kasih tau ya. Pembuatannya pun beragam nih, sobat MI.

Apabila menggunakan tepung sagu, tepung sagu perlu direndam dulu di dalam air bersih kurang lebih 15 menit sebelum dimasak. Setelah itu, pati tepung sagu yang mengendap tadi kita ambil. Nah, baru kita campurkan pati itu dengan air untuk nantinya dibuat papeda.

Selain resep diatas, ada resep lain nih sobat MI. Ya, kalian perlu nyiapin bahan masakan yaitu sagu, air panas atau dingin, jeruk, dan garam.

Pertama-tama, rebus air hingga mendidih. Sembari menunggu air mendidih, sobat MI bisa menyatukan sagu, perasan jeruk, garam, dan air dingin di dalam baskom.

Setelah itu, sagu diaduk dan saring deh. Kalau air sudah mendidih, siramkan air tersebut ke sagu sambil diaduk hingga masak. Papeda siap untuk disantap. Nyam banget!

Nah, perlu diingat ya sobat MI, takaran air panas untuk mencampur cukup penting nih. Pasalnya bila berlebih atau kurang akan berpengaruh pada kekentalan papeda.

Makanan khas Papua yang satu ini sedikit pudar dan susah ditemukan. Ketika di Papua, Maluku, dan sekitarnya jangan lupa mencobanya ya. Lestarikan makanan yang memiliki nilai dan filosofi yang tinggi. Salam kuliner, sobat MI!

Jangan lupa untuk terus membaca postingan kita ya sobat MI. Caranya mudah kok. Dengan klik disini. Rasakan manfaat, keasikan, dan keseruan mengenal indonesia melalui postingan di website dan akun sosial media Mengenal Indonesia.

Share this :

Leave a Comment