Mengenal Indonesia

Mengenal Rumah Joglo Jawa, Bangunan Khas dari Pulau Jawa

Share this :

Jawa mempunyai beberapa nilai penting mengenai etika dan estetika. Nilai penting tersebut terwujud dalam berbagai kearifan lokal budaya yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Jawa. Salah satu nilai etika dan estetika adalah rumah joglo jawa yang memiliki beragam makna serta nilai adat istiadat yang sangat kental. Rumah joglo Jawa dapat merepresentasikan mengenai sikap dan pembawaan yang dipegang teguh oleh masyarakat Jawa.

Rumah joglo Jawa merupakan kearifan lokal yang mempunyai keindahan seni serta budaya yang berhubungan langsung dengan kehidupan tiap individu. Secara ilmiahnya, bangunan fisik dapat menjadi sebuah tanda mengenai tingkat perkembangan manusia, sehingga setiap bangunan secara tidak langsung berhubungan dengan nilai intrinsik tentang kearifan lokal.

Seperti yang sobat MI tau, pada zaman prasejarah terdapat banyak sekali benda-benda kuno yang menandakan kehidupan umat manusia pada saat itu, sekaligus meninggalkan bercak-bercak sejarah tentang bagaimana manusia purba menjalani kehidupan. Begitupun juga dengan bangunan candi-candi yang dapat kita tafsirkan sebagai tempat ibadah agama Hindu. Oleh karena itu, dapat kita pahami bangunan-bangunan fisik yang ditempati oleh manusia adalah representasi kehidupannya. 

BACA JUGA: Bukan Cuma Rumah Kebaya, Ternyata Ada 4 Jenis Rumah Adat Betawi

Kebudayaan yang Membentuk Rumah Joglo Jawa

Mengenal Rumah Joglo Jawa, Bangunan Khas dari Pulau Jawa
Sumber foto: Travel.kompas.com

Perkembangan rumah joglo Jawa erat hubungannya dengan bangunan purba yang disebut punden berundak, yaitu sebuah bangunan suci yang memiliki struktur atau memiliki susunan yang semakin ke atas semakin kecil seperti anak tangga. Rumah adat Jawa ini pun sama seperti punden berundak, di mana susunan bagian luar pendhapa ditutup atap dengan bentuk menjulang tinggi ke atas seperti gunungan yang bagian puncaknya terdapat mala menjulur. Masyarakat Jawa menyebutnya sebagai panuwun.

Bagian tengah rumah joglo Jawa memiliki satu ciri khas yaitu adanya struktur penyangga bagian atas yang biasa disebut saka guru. Bentuk dari saka guru adalah tiang-tiang yang berasal kayu berjumlah empat dengan formasi persegi. Bagian bawahnya akan diganjal atau ditopang dengan sebuah batu atau umpak atau bebatur. Bila kita cermati, rumah adat Jawa ini memiliki kemiripan dengan struktur dan bentuk dari candi Hindu. Sehingga, rumah joglo Jawa adalah transformasi dari bangunan Candi.

Setiap rumah adat memiliki bagian-bagian yang merupakan wujud dari budaya yang melekat. Akan ada nilai dan norma yang berlaku pada masyarakat, begitupun juga dengan rumah adat Jawa ini. Konstruksi bangunan rumah joglo Jawa mengandung filosofi-filosofi tertentu yang erat dengan nilai religi, norma, kepercayaan, serta nilai budaya. Setiap ruangan mempunyai perbedaan nilai, seperti ruang depan bersifat publik dan ruang belakang bersifat pribadi atau privat.

Uniknya lagi, dari ruangan bagian teras hingga belakang juga memiliki unsur religi atau kepercayaan terhadap Dewa yang diwujudkan dalam ruangan persembahan yang disebut krobongan untuk Dewi Sri yaitu Dewi Kesuburan. Ruangan tersebut adalah kamar yang selalu kosong, namun tetap berisikan alat-alat tidur. Krobongan dibuat sebagai bentuk penghormatan kepada Dewi Sri.

BACA JUGA: MENGINTIP KEUNIKAN RUMAH ADAT MINANGKABAU: RUMAH GADANG

Filosofi Rumah Joglo Jawa

Mengenal Rumah Joglo Jawa, Bangunan Khas dari Pulau Jawa
Sumber foto: Ruparupa.com

Rumah Jawa ini terdiri dari dua kata, yaitu “Tajug” dan “ Loro” yang memiliki arti menggabungkan dua tajug. Tajug merupakan bentuk atap yang memiliki kemiripan dengan piramida dari tampilannya. Tajug dipilih sebagai model rumah joglo Jawa karena bentuknya yang mirip dengan gunung. Karena pada saat itu, gunung merupakan tempat yang sakral bagi masyarakat.

Bagi masyarakat Jawa, kehidupan adalah sesuatu yang dicari, bukan dihindari atau dibelakangi. Hal ini diwujudkan dalam rumah adat Joglo yang berbentuk mirip gunung. Tak hanya sekedar meniru gunung, tetapi juga memiliki makna yaitu gambaran dunia yang saling berhadapan dengan samudera.

Rumah adat Jawa ini juga memiliki teras tanpa penghalang sekalipun. Teras luas ini mempunyai makna sebagai sarana untuk membangun silaturahmi dengan tetangga sekitar agar terciptanya kehidupan sosial yang baik sesuai norma dan budaya berlaku. Bagian luarnya juga mempunyai makna agar interaksi antar masyarakat semakin mudah. Yaitu direpresentasikan dengan pagar dari tanaman perdu yang memiliki tinggi tidak lebih dari satu meter.

Rumah joglo Jawa juga merupakan acuan dari kehidupan pemiliknya. Tidak semua masyarakat Jawa mampu membangun rumah jawa ini, karena kerumitan bahan bakunya memakan waktu yang cukup lama sekaligus proses pembuatannya juga menghabiskan dana yang cukup besar. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa rumah adat Jawa ini merupakan sebagai pertanda status sosial pemiliknya. Hanya kalangan priyayi dan bangsawan yang memiliki rumah joglo Jawa ini.

BACA JUGA: Rumah Adat Wae Rebo : Desa di Atas Awan Indonesia yang Eksotis

Arti dari Tiap Ruangan Rumah Joglo Jawa

Mengenal Rumah Joglo Jawa, Bangunan Khas dari Pulau Jawa
Sumber foto: Ruparupa.com
  • Pendapa

Ruangan ini lokasinya ada di depan rumah. Biasanya ada jalan sendiri untuk memasukinya. Dahulu, pendapa dianggap bangsawan sebagai simbol perlindungan dan menjadi tempat para penguasa untuk bersosialisasi bersama bawahannya. Sekarang, pendapa difungsikan untuk menerima tamu.

  • Pringgitan

Masuk ke dalam rumah adat Jawa, terdapat ruangan bernama pringgitan yang berada di tengah struktur rumah joglo Jawa. Ruangan ini memiliki fungsi yang hampir mirip dengan pendapa, yaitu untuk menerima tamu yang lebih dekat atau tamu resmi.

  • Dalem Ageng

Setelah itu akan memasuki omah buri adalah bangunan yang menjadi ruangan atau kamar tidur (senthong). Ruangan ini memiliki lantai dasar lebih tinggi daripada pringgitan dan pendapa. Bangunan ini memiliki arti tentang kerahasiaan atau personal dan tempat beraktivitas para perempuan.

  • Senthong

Merupakan ruangan yang paling privat dalam rumah. Terdapat tiga bagian, yaitu senthong kanan untuk kamar tidur ayah,  senthong kiri untuk kamar tidur ibu dan anak yang masih kecil, dan terakhir senthong tengah untuk meditasi. Senthong tengah ini adalah tempat untuk krobongan yaitu ruangan yang sangat sakral karena berkaitan dengan Dewi Sri.

BACA JUGA: Keunikan-Keunikan Desa Adat Penglipuran, Bali, Indonesia

Jangan lupa untuk terus membaca postingan kita ya Sobat MI. Caranya mudah kok. Dengan klik disini. Rasakan manfaat, keasikan, dan keseruan mengenal indonesia melalui postingan di website dan akun social media mengenalindonesia.com.

About Post Author

Leave a Comment

Education Template