Menembus Asa di Puncak Merapi

Menembus Asa di Puncak Merapi

      Mengenal merapi dengan berbagai sejarahnya yang penuh dengan duka dan suka cita tidak menutup semangat warganya yang terus ingin mendapatkan pendidikan yang layak pasca erupsi merapi tahun 2010 silam. Fajar Radit Syamsi bersama istrinya Yasmin Winnet, keduanya dengan latar belakang volunteer menginisiasi pembangunan sekolah informal yaitu Sekolah Gunung Merapi (SGM) pada tahun 2015 di Dusun Pangukrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. Seperti namanya sekolah ini terletak tujuh kilometer dari Gunung Merapi.

      Sekolah yang terletak di zona merah merapi tersebut merupakan renovasi dari bekas SD Pangukrejo yang telah hancur akibat dari erupsi Gunung Merapi. Kelas yang dimulai pertama kali pada tanggal 7 Desember 2015 awalnya hanya diperuntukkan bagi sopir-sopir jeep yang ingin belajar pemanduan wisata khususnya belajar Bahasa Inggris. Seiring berjalannya waktu penambahan kelas-kelas diperluas sehingga saat ini banyak orang tua yang ingin belajar mengenai praktik kerja dan didominasi oleh anak-anak yang lebih dikhususkan dalam pembelajaran pembangunan karakter.

      Sekolah ini memiliki jam pembelajaran hari Senin sampai Kamis pada pukul 13.00-19.00 WIB, sedangkan hari Jum’at hanya pukul 15.00-17.00 WIB. Fokus utama proses pembelajaran untuk anak-anak di sekolah ini ialah membangun karakter dalam kehidupan sehari-hari seperti moralitas, pengolahan sampah, pola pikir yang baik, serta paling utama yaitu mitigasi. Mitigasi penting untuk diajarkan melihat SGM ini terletak di daerah Kawasan Rawan Bencana (KRB) 3 yang berarti kawasan ini dilarang menjadi tempat tinggal penduduk. Sehingga mitigasi disampaikan agar masyarakat mampu melakukan tindakan pertama saat Gunung Merapi erupsi kembali.

      Untuk mengajarkan materi-materi ke peserta didik, Fajar saat ini dibantu oleh beberapa relawan tetapnya. Selain melalui kelas formal, Fajar menyampaikan materi menggunakan permainan yang dekat dengan kehidupan anak-anak, adanya kelas Jum’at kreatif seperti belajar memasak, paduan suara, tarian dan seni pertunjukkan. Tidak hanya itu Fajar juga rutin membawa peserta didiknya untuk kunjungan ke Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG). Tentunya SGM ini menekankan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam proses pembelajarannya.

      Diluar hal tersebut adanya kendala dalam keberlangsungan proses belajar mengajar di sekolah ini seperti kurangnya relawan lokal yang tertarik untuk ikut mengajar dan long term volunteer pun kurang. Selain itu seluruh fasilitas di sekolah ini murni murni dari biaya personal dan donasi-donasi. Meskipun demikian fasilitas di sini tetap layaknya sekolah pada umumnya yaitu adanya ruang belajar, pos pojok Merapi untuk memantau update status Merapi, gamelan untuk sekolah Jum’at kreatif, perpustakaan dusun, dan standar fasilitas sekolah lain seperti buku-buku, komputer, printer, proyektor, dan mushola.

      Hasil yang diharapkan dari pembangunan SGM ini ialah terbentuknya motivasi peserta didik dalam pengembangan karakter dan moralitas. Peserta didik nantinya akan mendapat sertifikat per semester sebagai hasil dari rapat evaluasi. Sertifikat tersebut berisi standar kompetensi dalam komunikasi, jiwa sosial, toleransi, dan kehadiran. Kepedulian Fajar serta Yasmin dalam meningkatkan mutu pendidikan Indonesia telah merubah kehidupan masyarakat Pangukrejo pasca erupsi Merapi dan mampu memberikan semangat bagi masyarakat sekitar untuk terus bangkit kembali memulai kehidupan yang baru. Melalui pendidikan ini Fajar yakin dapat memberikan manfaat bagi masyarakat untuk jangka waktu yang panjang.

One thought on “Menembus Asa di Puncak Merapi

Leave a Reply