Mengenal Indonesia

klenteng Caow Eng Bio klenteng tertua di Indonesia

7 Klenteng Tertua di Indonesia: Mulai Masuk MURI hingga Terluas di Asia Tenggara!

Share this :

Indonesia tercatat memiliki 2.000 lebih bangunan klenteng. Beberapa diantaranya telah dibangun ratusan tahun lalu. Klenteng tertua di Indonesia pun tersebar di beberapa sudut wilayah Khatulistiwa.

Terdapat klenteng yang diklaim sebagai klenteng tertua di Indonesia dan bersejarah. Merujuk berbagai sumber, patung dewa di klenteng tersebut tercatat dalam rekor MURI dan terluas di Asia Tenggara! Selain itu, salah satu klenteng menjadi awal merebaknya wayang Potehi.

Ini dia klenteng tertua di Indonesia dengan sejarah dan keunikannya.

Klenteng Tertua di Jawa Tengah

1. Solo – Tien Kok Sie

klenteng tertua di Indonesia klenteng Tien Kok Sie
sumber : merdeka.com/Arie Sunaryo

Menurut Sumantri Dana Waluya, Ketua Yayasan Klenteng Tien Kok Sie, klenteng ini telah ada sejak tahun 1745. Konon, Tien Kok Sie didirikan oleh pengusaha Tionghoa yang tengah singgah di Solo.

Tien Kok Sie terletak di selatan Pasar Gede. Tepatnya di Kelurahan Sudiroprajan, Kecamatan Jebres, Surakarta.

Sobat MI tau gak sih, kalau klenteng satu ini memiliki nama lain yaitu Vihara Avalokitesvara. Usut punya usut, nama tersebut dilatarbelakangi dengan kondisi Indonesia pada masa Orde Baru 1970-an.

Pada masa itu, segala sesuatu yang berkaitan dengan kesenian dan kebudayaan Tionghoa dibatasi. Bahkan Klenteng Tien Kok Sie diminta untuk ditutup.

Lantaran adanya pembatasan kegiatan berbau Tionghoa, umat Konghucu tidak berani beribadah di klenteng lagi. Alhasil mereka memutuskan untuk beribadah di rumah masing-masing.

Guna menghindari konflik pada masa Orde Baru itu, banyak klenteng di Indonesia yang berubah nama menjadi vihara. Nah, mulai dari situlah Tien Kok Sie bisa disebut Vihara Avalokitesvara.

Beberapa tahun kemudian yaitu 1997, Tien Kok Sie dinobatkan sebagai cagar budaya oleh Kepala Daerah II Surakarta.

Rata-rata struktur bangunan Klenteng Tien Kok Sie masih asli. Misalnya dari sisi dua arca singa penolak bala (Ciok Say) yang berjaga di luar gerbang, lukisan dewa penjaga pintu di dua arca naga yang mengapit bola mustika di puncak atap depan, hingga pilar-pilar kayu jati yang menyangga kuda-kuda berhiaskan ukiran naga.

2. Semarang – Tay Kak Sie

klenteng Tay Kak Sie klenteng tertua di Indonesia
sumber : indonesiakaya.com

Diketahui Tay Kak Sie berdiri sejak tahun 1746. Klenteng ini berada di Gang Lombok, Kauman, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang. Meruntut sejarahnya, Tay Kak Sie didirikan oleh Kho Ping dan Bong Wie.

Klenteng Tay Kak Sie disebut-sebut sebagai klenteng terbesar lantaran memiliki patung dewa terlengkap di Semarang. Tercatat patung dewa yang ada di Tay Kak Sie sebanyak 29. Umumnya, setiap klenteng hanya memiliki 5 patung dewa.

Selain itu, Tay Kak Sie memiliki sumur langit di tengah-tengah bangunan. Sumur langit ini berupa lubang di bagian klenteng dengan atap terbuka menghadap ke langit. Sumur langit berfungsi sebagai altar utama.

Ketika menyinggahinya, sobat MI akan disambut tulisan ‘Tay Kak Sie’ tepat di pintu masuk. Pada pintu masuk tersebut, terdapat penjelasan tentang sejarah penamaan klenteng.

Tay Kak Sie diartikan sebagai Kuil Kesadaran Agung oleh Kaisar Dao Guang (1821-1850) dari Dinasti Qing.

Klenteng Tertua di Jawa Timur

1. Tuban – Kwan Sing Bio

klenteng Kwan Sing Bio klenteng tertua di Indonesia
sumber : direktoripariwisata.id

Kwan Sing Bio adalah klenteng yang berada di pinggir Jalan Raya Pantura. Tepatnya Jalan Martadinata No.1, Kelurahan Karangsari, Kecamatan Kota Tuban, Kabupaten Tuban. Klenteng Kwan Sing Bio didirikan sekitar tahun 1773.

Klenteng dengan luas mencapai 4-5 hektar ini ternyata menjadi klenteng terluas di Asia Tenggara loh. Selain itu, satu-satunya klenteng yang menghadap langsung ke arah laut.

Patung Dewa Kwan Sing Tee Koen yang berada di bagian belakang klenteng masuk Museum Rekor Indonesia (MURI). Patung tersebut diklaim sebagai patung panglima perang tertinggi di Asia Tenggara.

Tinggi patung Dewa Kwan Sing Tee Koen ditaksir mencapai 30 meter. Namun, pada 2020 silam patung tersebut runtuh lantaran terpaan angin dan cuaca yang tidak menentu.

Saat mengunjungi klenteng ini, sobat MI akan mendapati gerbang dengan hiasan kepiting raksasa. Konon, dulu lahan Klenteng Kwan Sing Bio adalah lahan tambak ikan. Setiap malam kepiting keluar dari persembunyiannya.

Baca Juga : Sejarah Imlek di Indonesia : Benarkah Perayaan Imlek Sempat Dilarang?

2. Surabaya – Hong Tiek Hian

klenteng Hong Tiek Hian klenteng tertua di Indonesia
sumber : tridharma.or.id

Klenteng Hong Tiek Hian dibangun oleh pasukan Tar-Tar pada zaman Khu Bilai Khan. Tepatnya awal Kerajaan Majapahit berdiri. Pada masa itu, pasukan Tar-Tar sedang melakukan penyerangan ke Kediri sekitar tahun 1293. Sebagai informasi, pasukan Tar-Tar merupakan sebutan untuk pasukan tentara Mongolia.

Hong Tiek Hian terletak di kawasan pecinaan Surabaya yaitu di Jalan Dukuh, Kelurahan Nyamplungan, Kecamatan Pabean Cantikan, Surabaya. Klenteng satu ini berdekatan dengan kawasan legendaris Surabaya loh. Yaps, jembatan Merah.

Klenteng Hong Tiek Hian memiliki dua bangunan utama yang terpisah oleh seruas gang. Diantara kedua bangunan itu terdapat jembatan yang dijaga oleh dua ekor naga.

Pada bangunan lantai satu, terdapat altar Macko dan Kong Co. Sementara di lantai dua terdapat altar untuk Buddha, Dewi Kwan Im, dan dewi lainnya.

Klenteng Hong Tiek Hian tak hanya digunakan sebagai tempat ibadah umat Konghucu. Pada waktu tertentu, klenteng ini juga digunakan untuk pagelaran wayang Potehi. Hal ini tentu menarik perhatian masyarakat untuk mengunjungi Hong Tiek Hian.

Klenteng Tertua di Bali

1. Caow Eng Bio

klenteng Caow Eng Bio klenteng tertua di Indonesia
sumber : hotels.com

Meruntut cerita yang ada di masyarakat, Caow Eng Bio telah berdiri sejak zaman Kerajaan Badung (1548). Konon, lahan yang digunakan untuk mendirikan Caow Eng Bio diberikan oleh Raja Pemecutan Badung.

Namun, di sisi klenteng ditemukan prasasti bertuliskan tahun 1882 (tahun ke-8 pemerintahan Kaisar Guangxu). Artefak yang dimiliki Caow Eng Bio juga diklaim berasal dari masa pemerintahan Kaisar Guanxu.

Klenteng Caow Eng Bio terletak di ujung utara Tanjung Benoa dan berada di wilayah Banjar Adat Darmayasa. Caow Eng Bio didedikasikan untuk Dewi Shui Wei dan 108 bersaudara Hainan (Dewa Pelindung Laut).

Saat mengunjungi Caow Eng Bio, sobat MI akan disambut dengan dekorasi naga di atas klenteng. Selain itu, adanya 10 altar yang tersebar di seluruh area Klenteng Caow Eng Bio.

Klenteng Tertua di Sumatera Selatan

1. Palembang – Klenteng Dewi Pengasih

klenteng Dewi Pengasih atau Chandra Nadi klenteng tertua di Indonesia
sumber : kebudayaan.kemendikbud.go.id

Klenteng Dewi Pengasih disebut juga dengan “Klenteng Chandra Nadi/Soei Goeat Kiong”. Klenteng ini terletak di Jalan Perikanan, Kelurahan 10 Ilir, Kecamatan Seberang Ulu 1, Kota Palembang. Nah, Dewi Pengasih ternyata hanya berjarak 100 meter dari Sungai Musi.

Klenteng ini telah berdiri kokoh sejak 1773 pada masa Kesultanan Palembang Darussalam dan Kolonial Belanda.

Diketahui bangunan Klenteng Chandra Nadi memiliki ukuran 8,3 meter × 28 meter × 11 meter.

Ada hal menarik dari klenteng Chandra Nadi nih, sobat MI. Umumnya dalam perayaan Imlek, setiap klenteng akan ada sajian untuk leluhur seperti darah babi. Namun, Chandra Nadi tidak.

Klenteng Chandra Nadi tidak mengizinkan sesaji darah babi dan anjing. Hal ini dikarenakan adanya kisah warga Tionghoa yang menikah dengan umat muslim di masa lampau.

Kisah percintaan kedua etnis tersebut berkaitan dengan sejarah Pulau Kemaro dan Kampung Kapitan. Selaras dengan legenda putri Palembang, Siti Fatimah seorang muslim yang menikah dengan Pangeran Cina bernama Tan Bon An. Gun menghargai leluhur muslim, sesajian yang berkaitan dengan babi dan anjing tidak diizinkan.

Baca Juga : Tradisi Imlek di Indonesia yang Gak Pernah Luput!

Klenteng Tertua di Jakarta

1. Jin De Yuan

klenteng tertua di Indonesia klenteng Jin De Yuan
sumber : genpi.id/Salsabill Fajriani Salim

Klenteng Jin De Yuan dibangun pada 1650 dan diklaim sebagai klenteng tertua di Jakarta. Konon, Jin De Yuan didirikan oleh Letnan Tionghoa, Kwee Hoen.

Awal mulanya klenteng ini dinamai Koan Im Teng. Pasca tragedi pembantaian Angke, umat Tionghoa dan Klenteng Kwan Im Teng dilenyapkan.

Seabad kemudian, Kapten asal Tionghoa, Oie Tjhie memugar kembali Klenteng Kwan Im Teng dengan nama baru “Kim Tek Le” atau yang sering kita dengar dengan sebutan “Jin De Yuan“.

Nama “Kim Tek Le” diartikan sebagai kebajikan emas. Nama tersebut disematkan untuk mengingatkan manusia agar tidak hanya mementingkan kehidupan materialisme saja. Melainkan kebajikan antar sesama manusia.

Jin De Yuan dikenal sebagai salah satu klenteng di Indonesia yang multikultur. Kok bisa? Yaps, aliran atau agama seperti Tao, Buddha, dan Konghucu bisa beribadah di klenteng ini.

Saat menuju pintu utama klenteng, sobat MI akan menjumpai dua buah jendela persegi dengan ukiran motif binatang dan bunga teratai. Selain itu, terdapat jendela berbentuk bulat dengan ukiran Qi Lin (kuda bercula satu). Pada pintu utama juga terpajang sepasang lentera bermotif naga dan burung hong serta arca Giok Hong Siong.

Arca Giok ini memiliki nama lain yaitu Dewa Pertama Alam Langit/Dewata Tertinggi Penguasa Alam. Dewa tersebut berperan menyambut pengunjung yang ingin beribadah di klenteng Jin De Yuan.

Itu dia sederet klenteng tertua di Indonesia. Sudah sepantasnya kita melestarikan apa yang telah ditinggalkan oleh leluhur. Jika bukan kita yang melestarikan, siapa lagi?

Jangan lupa untuk terus membaca postingan kita ya sobat MI. Caranya gampang kok dengan klik sini. Rasakan manfaat, keasikan, dan keseruan mengenal Indonesia melalui postingan di website dan akun sosial media Mengenal Indonesia.

Share this :

Leave a Comment