Mengenal Indonesia

Gedung Museum Fatahillah

Jejak Museum Fatahillah: Mistisnya Penjara Bawah Tanah

Share this :

Ketika jalan-jalan di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, sobat MI akan menjumpai bangunan klasik bernama Museum Fatahillah.

Yaps, Museum Fatahillah merupakan ikon Kota Tua yang fotogenik sekaligus mistis.

Hal yang paling melekat dari Museum Fatahillah adalah Penjara Bawah Tanah. Banyak misteri yang terpendam di dalamnya.

Lantas gimana sih sejarah adanya Museum Fatahillah dan mistisnya Penjara Bawah Tanah?

Sejarah Museum Fatahillah: Dulunya Apa?

Gedung Museum Fatahillah
sumber : instagram.com/museumkesejarahan

Museum Fatahillah dulunya merupakan gedung Balai Kota Batavia. Pembangunan Balai Kota Batavia hingga akhirnya menjadi Museum Fatahillah dilakukan sebanyak tiga kali.

1. Tahun 1620

Pembangunan pertama dilaksanakan pada tahun 1620 oleh Jan Pieterszoon Coen.

Jan Pieterszoon Coen merupakan politikus Belanda yang menjabat sebagai Gubernur Jenderal VOC periode 1619-1623 dan 1627-1629.

Balai kota dibangun sebagai basis Pemerintahan VOC di Batavia.

Kala itu Balai Kota berada di tepi timur Kali Besar.

Saat pertempuran melawan Sultan Agung dari Mataram 1626, Balai Kota runtuh.

2. Tahun 1627

Setahun setelah pertempuran melawan Sultan Agung, Jan Pieterszoon Coen menginstruksikan bawahannya untuk membangun kembali gedung tersebut.

Balai Kota kembali dibangun di wilayah Nieuwe Markt (sekarang Taman Fatahillah).

Meruntut sejarahnya, tahun 1648 kondisi Balai Kota memburuk. Gedung Balai Kota perlahan ambles. Hal tersebut dikarenakan ketidakseimbangan tanah di Batavia serta beratnya bangunan.

Alhasil, Balai Kota diinstruksikan untuk dibongkar.

3. Tahun 1707

Merujuk laman resmi Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, dibawah komando Gubernur Jenderal Joan van Hoorn, Balai Kota dibongkar dan dibangun kembali.

Pembangunan dilakukan pada 25 Januari 1707. Lokasinya berada di kawasan yang saat ini bernama Kota Tua.

Balai Kota yang diprakarsai Hoorn, didesain menyerupai Istana Dam, Amsterdam.

Gedung tersebut terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan Penjara Bawah Tanah.

Balai Kota Batavia baru diresmikan 10 Juli 1710 oleh penerus Hoorn yakni Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck. Tepatnya dua tahun sebelum bangunan ini selesai secara keseluruhan.

Setelah peresmian, Balai Kota tak hanya berfungsi sebagai kantor administrasi.

Saat itu, Balai Kota mulai digunakan sebagai lokasi pembayaran pajak, pusat ibadah, pengadilan, penjara, dan eksekusi tahanan.

Tahun 1900-an, Kota Batavia meluas dan kedudukannya ditingkatkan menjadi Gemeente Batavia (Kota Madya).

Akibatnya, aktivitas di Balai Kota Batavia dipindahkan. Tahun 1913 dipindahkan ke Tanah Abang. Lalu, selang 6 tahun dipindahkan kembali ke Koningsplein.

Lantaran kosong, gedung bekas balai kota ini dimanfaatkan sebagai kantor Pemerintahan Jawa Barat hingga 1942.

Tahun 1942-1945, Jepang menguasai Indonesia. Pada saat itulah gedung bekas Balai Kota Batavia diambil alih Nippon menjadi gudang logistik.

Setelah Indonesia merdeka, bangunan ini kembali digunakan sebagai kantor Pemerintah Jawa Barat hingga 1961.

Selain itu juga sempat digunakan sebagai kantor Komando Militer Kota I.

Setelah itu digunakan sebagai kantor Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Tahun 1970, bangunan bekas Balai Kota Batavia ditetapkan sebagai bangunan Cagar Budaya.

Tepat 30 Maret 1974, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin menetapkan bangunan  tersebut sebagai Museum Fatahillah.

BACA JUGA : Sejarah Menarik Penamaan DKI Jakarta yang Perlu Kalian Tau!

Potret Penjara Bawah Tanah

Penjara Bawah Tanah Museum Fatahillah
sumber : instagram.com/ciciliaekasari

Museum Fatahillah menyimpan berbagai misteri di masa lalu.

Tak heran, banyak pengunjung yang merasakan aura berbeda ketika menyambangi museum ini.

Penjara Bawah Tanah Museum Fatahillah tak hanya sebagai rumah tahanan, akan tetapi rumah eksekusi mati.

Saat air laut pasang, penghuni tahanan akan tenggelam. Kok bisa? Ya, karena pada saat itu air merembes ke dalam penjara.

Maka tak ayal banyak tahanan yang meninggal sebelum dieksekusi. Terlebih, ruangan yang disediakan sangatlah sempit dan gelap.

Selain kondisi ruangan yang miris, tahanan ditahan menggunakan bola meriam. Bola meriam digunakan untuk mengikat kaki dan tangan.

Terbayang bukan, gimana sadisnya perlakuan VOC saat itu?

Ikon Penjara Bawah Tanah adalah lonceng kematian. Lonceng tersebut akan berbunyi sebanyak tiga kali.

Bunyi pertama sebagai tanda tahanan dibawa ke ruang pengadilan. Bunyi kedua tahanan telah berada di ruang pengadilan dan bunyi ketiga menandakan tahanan telah dieksekusi mati.

Ribuan orang Tionghoa, pemberontak bernama Pieter Erberveld beserta rekan-rekannya meregang nyawa di sini dengan cara digantung.

Penjara kecil, gelap, dan beratap pendek ini juga menjadi tempat VOC menahan Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dien, dan Untung Suropati.

Nah, melansir berbagai sumber banyak fenomena aneh yang dialami seseorang ketika menyambangi Museum Fatahillah terutama Penjara Bawah Tanah. Misalnya ada bau amis darah, suara tangisan, dan penampakan noni Belanda.

Tertarik uji nyali di sini sobat MI?

BACA JUGA : Murahnya wisata di Jakarta! Salah satunya Museum Fatahillah

Koleksi di Museum Fatahillah

ruang Tarumanegara Museum Fatahillah
sumber : instagram.com/museumkesejarahan

Museum Fatahillah disebut juga Museum Sejarah Jakarta.

Merujuk instagram @museumkesejarahan, Museum Sejarah Jakarta menyimpan sekitar 23.000 koleksi barang bersejarah.

Ketika menyambanginya, sobat MI akan menjumpai objek seperti:

1. Perjalanan sejarah Jakarta

2. Replika peninggalan masa Tarumanegara.

3. Hasil penggalian arkeologi di Jakarta

4. Mebel antik dari abad 17 hingga 19.

5. Keramik, gerabah, dan batu prasasti.

Objek-objek di atas dibagi menjadi beberapa ruang, seperti ruang Prasejarah Jakarta, ruang Tarumanegara, ruang Jayakarta, ruang Fatahillah, ruang Sultan Agung, dan ruang Batavia.

Itu dia sejarah dan bagaimana Museum Fatahillah berdiri.

Jangan lupa untuk terus membaca postingan kita ya sobat MI. Caranya gampang kok dengan klik di sini. Rasakan manfaat, keasikan, dan keseruan mengenal indonesia melalui postingan di website dan akun sosial media Mengenal Indonesia.

Share this :

Leave a Comment