Mengenal Indonesia

film toleransi tanda tanya

Film Toleransi Paling Epic Ajarkan Banyak Hal, Ada Film Tanda Tanya!

Share this :

Bicara perihal toleransi, banyak hal yang perlu kita gali lebih dalam tentang arti toleransi. Why? Orang kerap ngomongin “toleransi” abcd tapi mereka belum menerapkan sepenuhnya bagaimana toleransi itu. Mulut bisa berbusa ketika menjelaskan toleransi tapi sikapnya nol. Ya, macam tong kosong berbunyi nyaring!

Nah, supaya lebih memahami bagaimana menerapkan sikap toleransi itu, sobat MI perlu asupan film-film yang menyuguhkan tema toleransi nih.

Okay, sobat MI. Berhubung hari ini adalah hari Toleransi Internasional, MI bakal ngasih kalian 3 rekomendasi film yang mengangkat indahnya hidup dengan toleransi. Banyak ajaran yang bisa kalian petik dari film ini. Kira-kira film apa aja ya?

BACA JUGA : Film Perjuangan Wanita Indonesia yang Sangat Inspiratif

1. Film Tanda Tanya

film toleransi tanda tanya
sumber : Netflix

Film Tanda Tanya merupakan film besutan Hanung Bramantyo yang rilis pada tahun 2011 dan bisa kalian tonton lewat layanan streaming Netflix. Meskipun film ini sempat mendapat tanggapan pro dan kontra dari masyarakat, Tanda Tanya berhasil meraih penghargaan Piala Citra Festival Film Indonesia untuk Best Cinematography.

Tanda Tanya dibintangi oleh sederet artis papan atas seperti Reza Rahardian, Revalina S Temat, Agus Kuncoro, Rio Dewanto, Endhita, dan Henky Solaiman.

Berdurasi 1 jam 40 menit, film ini sangat kental dengan pluralisme dalam beragama. Tanda Tanya menceritakan kisah hubungan tiga keluarga dengan latar belakang agama yang berbeda yaitu Islam, Katolik, dan Budha di sebuah area dekat Pasar Baru, Semarang. Masing-masing keluarga itu memiliki konflik hidup terkait agama yang dianut.

Tanda Tanya menampilkan sosok Menuk (Revalina S Temat), yaitu seorang muslim yang bekerja di restoran Canton. Restoran Canton merupakan restoran China yang mengolah beragam masakan China baik makanan halal dan non-halal.

Pemilik restoran bernama Tan Kat Sun (Henky Solaiman) yang beragama Budha. Walaupun berbeda keyakinan dengan masyarakat dan pegawainya, Tan Kat Sun sangat menghargai dan menghormati orang muslim.

Konflik hidup Tan Kat Sun dimulai ketika dia jatuh sakit dan restoran dipegang oleh Ping Hen (Rio Dewantara). Ping Hen memutuskan akan melayani secara eksklusif masakan dari daging babi dan mengesampingkan pelanggan muslimnya.

Sisi lain, Rika (Endhita), janda beranak satu yang merupakan mualaf. Dulunya, Rika menganut agama Kristen. Meskipun menjadi single parent, Rika tetap konsisten mengajarkan agama Islam kepada anaknya.

Pada suatu momen, Rika jatuh hati pada Surya (Agus Kuncoro) seorang muslim yang bersedia memerankan tokoh Yesus dalam sebuah drama.

Sosok Menuk sendiri harus menghadapi selisih paham dengan suaminya, Soleh (Reza Rahardian) lantaran cemburu dengan Ping Hen yang merupakan mantan pacar Menuk. Menuk dan Ping Hen dulunya berpacaran beda agama.

Sikap toleransi dalam film ini dapat kita lihat pada sosok Tan Kat Sun. Biasanya masakan China identik dengan penggunaan daging babi. Memahami bahwa masyarakat sekitarnya tidak hanya satu agama namun beragam agama, Tan Kat Sun menyediakan makanan halal dan non-halal.

Dalam proses memasaknya, Tan Kat Sun menggunakan alat masak yang berbeda antara makanan halal dan non-halal. Hal ini mencerminkan bahwa Tan Kat Sun sangat menghargai kepercayaan masyarakat khususnya Islam dengan cara menyediakan alat dan menu masakan halal.

Sikap toleransi kedua ditampilkan pada sosok Surya. Kok bisa? Surya yang beragama Islam secara sukarela mau memerankan tokoh Yesus dalam sebuah drama di Gereja. Disini menekankan stereotip masyarakat yang memandang bahwa orang muslim diharamkan menginjakkan kaki di gereja. Pandangan lain pun muncul, di mana tindakan Surya serasa menodai agamanya sendiri lantaran memerankan tokoh Yesus.

Tokoh Surya disini sangat menghargai dan mendukung kegiatan agama Kristen. Surya memerankan tokoh Yesus dengan baik, namun keyakinan Surya terhadap agamanya tidak goyah sedikit pun.

Dari film ini, kita bisa tau bahwa keberagaman adalah hal yang indah yang ada di negara Khatulistiwa. Baik itu keberagaman suku, etnis, ras, budaya, dan agama. Sikap saling menghargai dan menghormati harus kita tanamkan dalam kehidupan sehari-hari.

BACA JUGA : Peringati Hari Pramuka, Ini 3 Film Tentang Pramuka yang Wajib Kamu Tonton

2. Bumi itu Bulat

Film toleransi Bumi itu Bulat
sumber : IMDb

Film besutan Ron Widodo ini rilis pada April 2019. Film berdurasi 1 jam 43 menit merupakan hasil kerja sama antara Inspira Picture dan GP Ansor.

Bumi itu Bulat turut menggandeng Christine Hakim dan Arie Kriting sebagai produser eksekutif. Untuk pemeran utamanya sendiri dibintangi oleh Rayn Wijaya, Tissa Biani, Kenny Austin, Febby Rastanty, Aldy Rialdy, Rania Putri Sari, dan Qausar Harta Yudana.

Poin dari film ini adalah adanya rasa peduli dan sikap toleransi antar umat beragama. Kisah dimulai dari tokoh Rahabi (Rayn Wijaya) yang memiliki grup musik “Rujak Acapella”. Grup tersebut terdiri dari Hitu (Aldy Rialdy) seorang muslim Ambon yang bercita-cita menjadi banser, Markus (Kenny Austin) seorang keturunan Tionghoa Kristen, Sayid (Qausar Harta Yudana) seorang muslim muhammadiyah asal Minang, dan Tiara (Rania Putri Sari) gadis berhijab yang menyukai Rahabi.

Ayah Rahabi yakni Syamsul (Mathias Muchus) bekerja di organisasi Milisi Islam atau dikenal dengan banser. Lantaran sibuk dengan organisasi itu, Ayah Rahabi jarang menghabiskan waktu bersama keluarga. Alhasil, Rahabi menjadi pengganti sosok ayah untuk adiknya, Rara (Tissa Biani). Rahabi membiayai kehidupan adiknya dengan berusaha merilis album.

Rejeki Rahabi terbuka lebar ketika Aldi (Arie Kriting) selaku produser musik menawarkan rekaman dengannya. Namun dengan catatan Aisha (Febby Rastanty) ikut. Aisha adalah mantan penyanyi “Rujak Acapella” yang mundur lantaran tidak mau melanjutkan karir bernyanyinya.

Demi menggapai cita-cita dan menghidupi adiknya, Rahadi mengikuti segala kemauan Aisha. Mulai dari mewawancarai Farah, dosen yang dipecat karena dituduh menyebarkan paham kebencian hingga masuk dalam organisasi radikal.

Awalnya, Rahabi merasa tidak ada yang janggal dengan Aisha. Namun, seiring berjalannya waktu keluarga dan keempat sahabatnya mencurigai Rahabi terlibat paham radikalisme. Sejak itulah Rahabi mengambil sikap tegas meskipun karir mencari taruhannya.

Pada film ini, sosok Aisha digambarkan memiliki pemikiran dan pandangan yang berbeda tentang Islam. Bagi Aisha, jika ada yang memiliki kepercayaan yang berbeda dengannya maka wajib dijauhi.

Plot yang disajikan antara Rahabi dan Aisha sering kita jumpai di kehidupan sehari-hari hingga menciptakan nilai intoleransi dalam bermasyarakat. Perbedaan yang ada di antara keduanya bukanlah suatu alasan untuk saling membenci dan menciptakan konflik.

Nah, buat sobat MI yang mau nonton film ini bisa banget langsung streaming di VIU ya!

BACA JUGA : 5 Rekomendasi Film Berlatar Daerah, Bikin Makin Cinta Indonesia!

3. Rumah di Seribu Ombak

rumah di seribu ombak film toleransi
Sumber: arsip.festivalfilm.id

Rumah di Seribu Ombak merupakan film garapan Erwin Arnada yang siap mengombak-ambikan emosi kita. Merujuk IMDb, film ini rilis pada tahun 2012 dengan durasi 1 jam 47 menit.

Rumah di Seribu Ombak diangkat dari sebuah novel dengan judul yang sama karya Erwin Arnada.

Film ini berkisah tentang persahabatan yang melintasi perbedaan, berkembang menjadi cinta, dan berakhir duka. Latar panorama film ini diambil di Singaraja, Bali.

Rumah di Seribu Ombak mengisahkan sudut pandang tokoh Samihi setelah dewasa. Samihi adalah pribadi yang takut akan air. Pasalnya, almarhum sang ibu melarangnya lantaran takut Samihi tenggelam seperti kakaknya.

Suatu ketika Samihi dipertemukan dengan Wayan Manik alias Yanik. Samihi adalah pendatang baru di Singaraja yang beragama Islam dan kerap dijahili oleh teman sekitarnya. Yanik, kala itu menolong Samihi hingga akhirnya mereka berteman.

Yanik merupakan orang asli Singaraja yang beragama Hindu. Yanik ternyata mengajarkan banyak hal kepada Samihi. Misalnya ketika Samihi hendak mengikuti lomba ngaji. Yanik membawa Samihi ke seorang guru kidung untuk belajar vokal. Yanik yang sangat mencintai laut, mencoba membantu Samihi menghilangkan rasa takutnya terhadap air.

Dibalik persahabatan itu, ternyata Yanik menyimpan masa lalu kelam tentang kekerasan seksual yang pernah dialaminya.

Dalam film ini, sikap Yanik menjadi plot yang epic dalam menampilkan sikap toleransi beragama. Meskipun beragama Hindu, Yanik mau membantu Samihi dalam mengikuti lomba ngaji hingga mengantarkan Samihi ke guru kidung. Mulai dari sini, Sobat MI bisa membayangkan gimana perbedaan tak menjadi penghalang untuk sebuah persatuan yang tulus.

Itu dia 3 rekomendasi film bertema toleransi yang bisa kalian tonton dan tentunya ambil pesan morilnya ya.

BACA JUGA : Rayakan 17 Agustus, Yuk Nonton Film Pahlawan Indonesia untuk Tingkatkan Rasa Nasionalisme

Jangan lupa untuk terus membaca postingan kita ya Sobat MI. Caranya mudah kok. Dengan klik disini. Rasakan manfaat, keasikan, dan keseruan mengenal indonesia melalui postingan di website dan akun social media mengenal indonesia.

Share this :

Leave a Comment