Mengenal Indonesia

5 Fakta Menarik Mengenai Jurnalisme Kepiting dan Asal Mula Koran Kompas

Share this :

Halo Sobat MI! Siapa nih di antara kamu yang pernah mendengar istilah jurnalisme kepiting? Istilah jurnalisme kepiting sendiri berkaitan erat dengan asal mula berdirinya perusahaan media terbesar di Indonesia saat ini, yaitu Kompas Grup. 

Sematan Jurnalisme Kepiting mulai berkembang pesat di masa Orde Baru yang kental dengan pembredelan media massa. So, apa sih sebenarnya jurnalisme kepiting ini? Atau seperti apa konsep yang digunakan dalam jurnalisme model ini? Yuk, simak beberapa fakta menarik seputar jurnalisme kepiting di bawah ini!

1. Berawal dari Persahabatan Beda Generasi

jurnalisme
Sumber: wikipedia

Jurnalisme di Indonesia memang tidak memandang gender atau usia. Hal inilah yang menjadi awal mula kemunculan koran Kompas dan juga istilah jurnalisme kepiting yang melekat di dalamnya. 

Persahabatan beda generasi yang melahirkan perusahaan media terbesar di Indonesia ini berawal dari pertemuan Jakob Oetama dengan Petrus Kanisius Ojong. Perkenalan keduanya terjadi di tahun 1958. 

Pada waktu itu, Jakob Oetama masih bekerja sebagai jurnalis di majalah Penabur sedangkan Ojong dikenal sebagai pemimpin redaksi majalah Star Weekly. Pertemuan ini bermula dari keinginan Jakob untuk berguru kepada Ojong. 

Tercatat, Petrus Kanisius Ojong sendiri kelahiran 25 Juli 1920, sedangkan Jakob Oetama baru lahir 11 tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 27 September 1931. Meskipun berbeda generasi, keduanya cocok satu sama lain dan menjadi sahabat hingga akhir hayat Ojong. 

Baca Juga: Kiprah AJI dalam Sejarah Jurnalis Indonesia

2. Asal Mula Koran Kompas

jurnalisme kepiting
Sumber: kompas.com

Pada tahun 1963, Jakob dan Ojong sepakat untuk mendirikan majalah ilmu pengetahuan yang bernama Intisari. Majalah ini pun cukup mendapat perhatian di era tersebut, bahkan namanya masih melegenda hingga saat ini. 

Tak lama selang dua tahun, keduanya mendirikan sebuah koran yang kelak menjadi raja media di Indonesia yaitu harian Kompas. Harian Kompas sendiri lahir pada tanggal 26 Juni 1965, dengan bermodalkan uang Rp100.000 yang berasal dari keuntungan majalah Intisari yang cukup populer pada masa itu. 

Dalam harian Kompas, Jakob Oetama menjabat sebagai pimpinan sedangkan nama Ojong tidak dicantumkan. Hal ini karena nama Ojong sendiri sangat tabu di dalam jurnalisme Orde Baru. Pada periode politik tersebut, Ojong kurang disukai oleh pemerintah karena dianggap vokal terhadap berbagai kebijakan. 

Harian Kompas yang mula-mula terdiri dari tujuh orang pun mengusung slogan, “Amanat Hati Nurani Rakyat”. 

3. Dibredel Rezim Orde Baru

jurnalisme kepiting
Sumber: National Geographic Indonesia

Pada tanggal 21 Januari 1978, Kompas yang sebelumnya terkenal cukup vokal dalam mengkritisi kebijakan pemerintah Orde Baru sempat dilarang terbit oleh pemerintah. Sebelumnya, melalui Ojong harian Kompas seringkali menulis opini-opini kritis dalam rubrik “Kompasiana” yang ramai dibaca mahasiswa. 

Sedangkan, pada tanggal 19-20 Januari, harian Kompas menerbitkan tulisan mengenai gerakan mahasiswa yang menginginkan presiden Soeharto untuk tidak mencalonkan diri sebagai presiden lagi. 

Oleh karena itu, harian Kompas sempat dibredel atau dilarang terbit oleh pemerintah Orde Baru. Koran lain yang kerap mengkritisi kebijakan pemerintah, yakni Indonesia Raya di bawah pimpinan Mochtar Lubis serta Pedoman di bawah pimpinan Rosihan Anwar juga ikut dibredel. 

4. Main Aman, Media Jalan

jurnalisme kepiting
Sumber: kompas.id

Setelah dilarang terbit, harian Kompas sendiri sempat dilematis dalam menentukan arah media ini berkembang. Pemerintah yang menawarkan pengampunan dengan berbagai syarat ketat, membuat Ojong yang cukup vokal sejenak ragu-ragu dalam menerima tawaran tersebut. 

Di sisi lain, ada jurnalis dan karyawan yang pada saat itu berjumlah sekitar 2.000 orang yang bekerja di bawah Kompas. Apabila harian Kompas tetap kekeh pada idealisme, maka mereka terancam kehilangan mata pencaharian yang selama ini cukup untuk memenuhi kebutuhan di tengah sulitnya ekonomi Orde Baru. 

Maka dari itu, Jakob Oetama akhirnya menandatangani pengampunan yang diajukan pemerintah Orde Baru. Kemudian tanggal 6 Februari 1978, Kompas kembali terbit dan masih bergulat menegakkan demokrasi. 

Di bawah nakhoda Jakob Oetama, Kompas menggunakan siasat main aman, media jalan khususnya saat merilis berita mengenai penguasa. Ibarat kepiting, ada saatnya maju (vokal), tetapi ada saatnya menyamping, dan ada saatnya mundur. 

Sejak saat itu, Kompas identik dengan istilah jurnalisme kepiting. Setidaknya selama Orde Baru dan jurnalis dari zaman tersebut yang memberi cap jurnalisme kepiting terhadap media Kompas. 

Baca Juga: Cara Menjadi Wartawan Online

5. Merajai Perusahaan Media di Indonesia

jurnalisme kepiting
Sumber: kompas.tv

Pada tanggal 31 Mei 1980, keluarga besar Kompas dirundung duka karena P. K Ojong wafat di usia 60 tahun. Sepeninggal Ojong yang telah memberikan banyak kontribusi serta membantu berdirinya Kompas sebagai media yang paten dan populer, Kompas di bawah Jakob telah menjual sebanyak 325.485 eksemplar di Desember tahun tersebut. 

Selain itu, Kompas juga memperluas bisnisnya di berbagai bidang kehidupan. Sobat MI tentu tidak asing dengan toko buku Gramedia, Hotel Santika, Radio Sonora, bahkan Universitas Multimedia Nusantara yang merupakan perluasan produk bisnis di bawah payung grup Kompas. 

Nah, itu tadi beberapa fakta menarik mengenai jurnalisme kepiting. Kini Sobat MI sudah tahu nih kalau jurnalisme kepiting sendiri merupakan sematan yang diberikan jurnalis era Orde Baru terhadap koran Kompas. 

Berkat teknik jurnalisme kepiting ini, Kompas sampai sekarang masih menjadi media populer yang dibaca semua usia. Mulai dari orang tua, dewasa muda, sampai remaja. Oh iya, apakah kamu salah satu pembaca koran Kompas juga? Komen di bawah ya Sobat MI!

About Post Author

Leave a Comment

Education Template